Berita Baru :
Showing posts with label #Sosial. Show all posts
Showing posts with label #Sosial. Show all posts

Sabang, Sebongkah Tanah Turun dari Surga

Penulis : Unknown on Saturday, February 21, 2015 | 2:47 AM

Saturday, February 21, 2015


Semua pasti tahu Sabang, pulau di paling Barat Indonesia. Disini terletak monumen nol kilometer Indonesia. Pulau yang masuk dalam Provinsi Aceh ini, memiliki ragam keistimewaan mulai dari kuliner, objek wisata dan tentu keramahan penduduknya. Bermodal kelebihan itu, pemerintah Kota Sabang pun berani menargetkan kawasan ini jadi destinasi pilihan turis asing untuk berlibur.

Bahkan, Wali Kota Sabang nekat untuk ‘membayar’ maskapai Garuda Indonesia, demi dibukanya rute Medan – Sabang. Seperti apa?

Pukul 10.42, Jumat (6/2/2015), pesawat ATR 72-600 Garuda Indonesia yang dipiloti Kapten Andreas Kristianto mendarat di Bandara Maimun Saleh di Kota Sabang, Aceh, setelah terbang selama 1 jam 20 menit dari Bandara Internasional Kualanamu di Medan, Sumatera Utara.

Peristiwa ini menandakan sejarah baru khususnya bagi pariwisata Aceh, khususnya Sabang.

Pasalnya penerbangan perdana Medan-Sabang semakin mempermudah wisatawan untuk menikmati keindahan Sabang, wilayah paling barat Indonesia itu. Dengan pengoperasian rute Medan-Sabang, maka setiap Minggu, Garuda Indonesia telah mengoperasikan sebanyak 32 penerbangan dari Aceh setiap minggunya.


Nama Sabang di Pulau Weh, Aceh, perlahan-perlahan mulai mencuri perhatian dan pelan-pelan dikenal di kalangan wisatawan dalam dan luar negeri. Kota ini memiliki warisan alam yang tak terlukiskan dengan kata-kata semata. Salah satunya adalah pemandangan alam yang luar biasa dan pantai-pantai yang memiliki karakteristik.

Tercatat, objek wisata di kawasan ini antara lain Pantai Iboih, Gapang, Kinci, Danau Aneuk Laot, Paradiso, Pantai Kasih, Sumur Tiga, Anoi Itam, Jaboi dan Pasir Putih. Pantai-pantai itu kini makin dibanjiri wisatawan untuk snorkeling dan diving, semakin menggairahkan pariwisata Sabang.

Wisata snorkeling dan diving di pulau Iboih, cukup memiliki karakteristik yang khas dengan pemandangan bawah laut yang luar biasa dan kumpulan ratusan hewan air di dalamnya. Indopost melaporkan apabila menggunakan skala 1 – 10, dari seluruh destinasi wisata yang ada, Sabang mendapat nilai Sembilan (9).

“Pulau ini terbuka untuk siapapun. Mulai dari turis lokal sampai turis asing. Tidak ada disini yang namanya menolak wisatawan,” ujar Zulkifli H Adam, Wali Kota Sabang.

Selain wisata bahari, jangan lupa, posisi Sabang di ujung barat Aceh menjadikan wilayah ini memiliki Tugu Nol Kilometer. Tugu ini selalu diramaikan pengunjung. Rasanya Anda belum sah dikatakan ke Sabang jika belum menyambangi Tugu Nol Kilometer.

Zulkifli yang sejak dua tahun lalu memimpin Kota Sabang memastikan warganya tidak akan bersifat ‘alergi’ dengan wisatawan yang datang dari seluruh penjuru dunia yang memiliki beragam karakteristik.

Kalimat ini terlontar seolah menjelaskan bahwa Kota Sabang, yang merupakan bagian dari Aceh sangat aman dan tidak pernah menolak apa yang namanya investasi dan perkembangan ekonomi. Menurut pria yang aktif di Partai Aceh ini, sejak Aceh bergejolak sejak puluhan tahun silam hingga saat ini, Kota Sabang adalah daerah paling aman.

Penduduk cinta damai dan mengedepankan keramahtamahan. Penduduk sudah memahami bahwa wisatawan baik lokal maupun orang asing, adalah investasi dan harus dijaga agar roda perekonomian terus berjalan. Apalagi, Kota Sabang dihuni oleh warga yang majemuk dari sisi agama maupun suku.

“Wisatawan mau parkir kendaraan di sembarang tempat, tidak akan ada yang curi atau hilang. Inilah Sabang yang bersiap menjadi Kota wisata,” jelasnya, meyakinkan betapa amannya Kota Sabang untuk berinvestasi.

Aksi Nekad Walikota

Aksi ‘nekat’ wali kota untuk menjadikan Kota Sabang menjadi kota wisata pun tidak hanya sampai pada pembenahan sistem di pemerintahan. Pria ini pun memberlakukan pelabuhan bebas. Hampir setiap bulan, kapal-kapal pesiar dari luar negeri singgah di kawasan ini.

Apalagi pelabuhan di bangun di kawasan yang memang lautnya dalam dan mampu disandari oleh kapal pesiar. Termasuk juga merealisasikan transportasi laut yang dapat mengangkut penumpang setiap harinya. Dengan konsep ini, Kota Sabang 24 jam dapat disinggahi wisatawan dengan menggunakan jasa kapal Ferry.

Yang paling nekat dan paling ekstrem yang dilakukan pria berkacamata ini dengan menggandeng maskapai Garuda Indonesia untuk membuka rute penerbangan dari Medan ke Sabang.

Pria ini menandatangani MoU dengan resiko wajib mensubsidi biaya penerbangan apabila penumpang yang terbang ke Sabang tidak lebih dari 22 orang atau tidak terisi sampai 22 sheet. Jadwal penerbangan yang dibuat menuju Sabang dan sebaliknya, ke Kuala Namu, Medan pun dibuka tiga kali dalam seminggu, setiap hari Rabu, Jumat dan Minggu.

Menanggapi aksi nekatnya tersebut, Zulkifli yang pernah berprofesi sebagai sopir truk ini menjelaskan, dengan keindahan Kota Sabang dan keramahan warganya, optimisme daerah ini bakal jadi salah satu destinasi yang paling dibanjiri wisatawan sangat kuat. Merealisasikan hal tersebut, harus diimbangi dengan perluasan jaringan transportasi. Jadi wisatawan memiliki opsi untuk menggunakan jalur laut yang harus melalui Aceh atau menggunakan jalur udara yang dilayani oleh Garuda Indonesia.

Pemkot Sabang terangnya optimis bahwa layanan penerbangan menggunakan pesawat ATR 72-600 yang digawangi oleh Garuda Indonesia bakal diminati oleh wisatawan karena langsung terbang dari Kuala Namu, Medan menuju Sabang.

“Pemkot Sabang akan mempertahankan rute penerbangan ini demi membuka pilihan transportasi yang lebih cepat dan aman. Ini untuk meningkatkan kehadiran wisawatan. Bila perlu semua pejabat daerah yang mau ke luar kota untuk perjalanan dinas harus naik pesawat Garuda. Kalau tidak ya siap-siap saja, karena tidak patuh pada pimpinan,” katanya dengan nada bergurau dipadu logat Aceh yang khas, disambut gelak tawa jajaran pegawai Kota Sabang saat penyambutan penerbangan perdana Pesawat Garuda Indonesia di Landasan Udara Maimun Saleh, Kota Sabang.

Tugu NOL Kilometer yang Baru

Menurut Zulkifli, Sabang daerah perbatasan dan satu-satunya yang memiliki Tugu Nol Kilometer. Tugu Nol Kilometer Sabang saat ini sedang ditutup karena pemugaran, jadi sebaiknya para wisatawan jangan datang dulu ke Sabang, sebab akan kecewa.

"Saat ini tugu tersebut sedang dipugar. Kalau dulu, tugu ini hanya biasa-biasa saja. Tahun ini Tugu Nol Kilometer akan berdiri megah. Siap-siap saja kalau datang ke Sabang, wisatawan akan melihat megahnya Tugu Nol Kilometer," kata Zulkifli.

"Nantinya, jika tugu ini selesai, wisatawan bisa foto dan keluar sertifikat bahwa mereka sudah pernah ke Tugu Nol Kilometer," tukasnya. (*lihat Tugu Nol Kilometer yang baru)

Pada tahun 2012, jumlah wisatawan ke Sabang tercatat 80.000 orang. Tahun 2013, jumlahnya meningkat menjadi 450.000 orang, dan 2014 naik menjadi 1 juta wisatawan.



Menurut Zulkifli, Saat Aceh bergejolak, Sabang merupakan daerah paling aman di Aceh. Panorama alam Sabang, baik itu udaranya, alamnya, maupun baharinya sangat indah, ditambah jenis ikan yang beraneka ragam. Terumbu karang di Sabang juga sangat bagus.

"Jenis ikan di Sabang sudah dihitung oleh ahli dari Inggris, ada sebanyak 538 ikan hias.Hal ini bisa langsung dinikmati wisatawan dalam dan luar negeri."

Sabang itu kata Zulkifli, ibarat "sebongkah tanah turun dari surga". Kok bisa?

Di Sabang ada gunung api di darat dan juga laut. Kalau di daerah lain butuh berhari-hari mencapai gunung berapi. Kata dia, di Sabang, wisatawan hanya turun mobil, lantas berjalan sepanjang 80-100 meter, mereka sudah bisa mencapai gunung berapi.

"Saya pernah ke luar negeri. Tidak pernah saya lihat satu kali pandang kita bisa lihat danau, gunung, laut, dan pulau-pulau kecil. Tidak ada hal seperti ini bisa kita saksikan di negara lain, kecuali di Sabang," tukasnya.

Untuk wisatawan kapal pesiar, Sabang memiliki keunggulan kedalaman laut kita (yang mencapai) 25 meter dan kapal langsung sandar. Biasanya wisatawan kapal pesiar turun ke darat dan berkeliling selama 8 jam atau setengah dari Pulau Weh untuk berwisata.

"Kebanyakan, kapal pesiar dari Eropa," tandasnya.


Apabila anda berkesempatan menyambangi lokasi yang menjadi titik nol kilometer Indonesia bagian Barat ini, jangan lupa juga untuk menikmati beberapa penganan khas. Mie Aceh, Mie Sedap, Kopi Aceh hingga Martabak Telur dan Sate Gurita dipastikan akan memanjakan lidah anda. Termasuk juga menyaksikan langsung wajah baru tugu titik nol kilometer yang saat ini dalam tahap renovasi.

Berapa biaya untuk tiba di Sabang? 

Untuk satu kali perjalanan dibutuhkan dana dikisaran Rp4 juta untuk transportasi udara menggunakan Garuda Indonesia. Penginapan dimulai dikisaran harga Rp180 ribu per malam jenis Cottage. Biaya sewa mobil dikisaran Rp450 ribu per hari atau dapat juga menyewa motor untuk lebih menghemat biaya. Biaya Snorkeling dimulai dari Rp75 ribu dengan menyewa speed boat Rp200 ribu. Selebihnya, tinggal siapkan uang saku anda untuk mencicipi kuliner khas Sabang!

kompas/indopost

comments | | Baca Selanjutnya...

Mahasiswa STAIN Malikussaleh Ikuti Donor Darah

Penulis : Unknown on Thursday, February 12, 2015 | 2:30 AM

Thursday, February 12, 2015

Foto I Reza Rizki

JURNALOGIKA - Korps Suka Rela (KSR) STAIN Malikussaleh Lhokseumawe mengelar kegiatan donor darah bagi mahasiswa, Kamis (12/2/2015) yang dilakukan di lobi Gedung Syariah kampus Alue Awe, Buket Rata Lhokseumawe.
Acara yang digelar dalam rangkaian kegiatan Milad STAIN Malikussaleh ke- 11 itu bekerjasama dengan Unit Donor Darah (UDD) Aceh Utara dimulai pukul 09:00 Wib pagi sampai siang sekira pukul 13:00 Wib.
Ketua Panitia, Mahdi Abdullah Syihab kepada jurnalatjeh.com mengatakan kegiatan donor darah ini salah satu dari rangkaian acara dari Milad STAIN.
“Ini adalah rangkaian dari acara ulang tahun kampus dan semoga dengan adanya kegiatan donor darah seperti ini bisa membantu bagi yang membutuhkan” kata Mahdi.
Komandan KSR STAIN Malikussaleh, Mushad, mengatakan acara seperti ini harus selalu dilakukan bagi mahasiswa minimal tiga bulan sekali untuk membantu warga yang membutuhkan darah. “Sampai sekarang sudah terkumpul 34 kantong darah dan darah ini akan kami serahkan kepada PMI Aceh Utara” jelasnya
Abdurrahman mahasiswa Jurusan Dakwah saat ditemui wartawan jurnalatjeh.com seusai melakukan donor darah mengatakan bangga bisa mendonorkan darah karena akan bermanfaat bagi orang banyak. “Senang sekali karena tidak semua orang bisa mendonorkan darah, ini merupakan kali ketiga saya ikut donor darah,” terangnya. (Fohan Muzakir)

Sumber : Jurnalaceh.com

persjurnal.mahasiswa@gmail.com
comments | | Baca Selanjutnya...

Infromasi Penerbangan Di Bandara SIM Akan Pakai Bahasa Aceh

Penulis : Unknown on Tuesday, January 20, 2015 | 2:00 AM

Tuesday, January 20, 2015

Ilustrasi - Pesawat Mendarat di Bandara Sultan Iskandar Muda
JURNALOGIKA.Blogs - Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM) Blangbintang, Aceh Besar, mulai tahun 2015 akan memasukkan bahasa Aceh, sebagai informasi penerbangan pada terminal kedatangan dan keberangkatan penumpang.

Hal itu disampaikan Kepala Cabang PT Angkasa Pura II, Slamet Samuaji SKom, dalam sambutannya membuka pelatihan mitra binaan PT Angkasa Pura II, di Hotel Sultan, Banda Aceh, Senin (19/5).
Menurutnya, selama ini bahasa informasi penerbangan yang baku digunakan di hampir semua bandara di Indonesia hanya bahasa Indonesia dan Inggris.

Lalu, sebagai bentuk memperkenalkan identitas daerah dan kearifan lokal, bahasa Aceh dinilai perlu dimasukkan sebagai salah satu bahasa informasi penerbangan di Bandara SIM, sekaligus mempopulerkan bahasa Aceh secara luas, terutama bagi penumpang yang tiba di bandara. “Bandara SIM sebagai gerbang masuk ke Aceh, untuk saat ini terus berbenah mewujudkan bandara agar dikenal luas di internasional,” ujarnya.

Ia menyebutkan tahun 2013 Bandara SIM, meraih peringkat tiga bandara terbaik nasional dari 24 bandara se-Indonesia di bidang service, safety, security, dan pelayanan pemberangkatan dan kedatangan penumpang. “Kami tengah mengupayakan 2015 ini penanganan pemberangkatan umrah bisa langsung dari Bandara SIM ke Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah, Arab Saudi, tanpa harus transit di bandara lain,” ungkap Slamet.

Karena itu, ia meminta dukungan masyarakat mampu menjaga Bandara SIM, mulai tidak melepaskan ternak, lokasi bermain layangan dan memotong rumput di sekitar runway (landasan pacu), sebab tindakan itu bisa berdampak terganggunya penerbangan.

Sementara itu, PT Angkasa Pura II juga menggelar pelatihan bagi pelaku usaha mikro. Kegiatan yang dilaksanakan sejak Senin itu menitikberatkan pada peningkatan kapasitas pelaku usaha kecil menengah (UKM) sebagai mitra binaan PT Angkasa Pura II agar tumbuh dan berkembang dalam usahanya.


comments (1) | | Baca Selanjutnya...

Mahasiswa Gajah Putih Kecewa dengan Sikap Gubernur Zaini

Penulis : Unknown on Saturday, January 17, 2015 | 7:50 AM

Saturday, January 17, 2015

Zaini Abdullah
JURNALOGIKA - MAHASISWA Universitas Gajah Putih (UGP) Takengon menyayangkan sikap Gubernur Aceh, Zaini Abdullah, yang ngotot mengusulkan anggaran sebesar Rp 200 miliar lebih untuk Badan Usaha Milik Aceh (BUMA). Apalagi dana ini sudah diwacanakan akan dialihkan untuk kepentingan publik seperti subsidi iuran listrik untuk masyarakat miskin di Aceh oleh DPRA. "Kami sangat kecewa atas sikap Gubernur Aceh yang lebih mengutamakan anggaran itu untuk kepentingan kerabatnya. 

Padahal di Aceh masih banyak sarana dan prasarana pelayanan publik yang harus dioptimalkan, apalagi pasca musibah banjir dan longsor kemarin," ujar Presma UGP, Raunal Mahfudh kepada ATJEHPOST.co via telepon seluler, Sabtu, 17 Januari 2015.

 Rahmat menilai sikap dan komitmen Gubernur Aceh untuk tetap mengusulkan anggaran untuk BUMA, telah mencerminkan sikap tidak adanya rasa prihatin dan bertanggung jawab terhadap rakyat Aceh. Padahal selama ini masyarakat Aceh telah banyak menaruh harapan kepada Gubernur Zaini dalam menjalankan segala amanahnya terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat. 

"Seharusnya Gubernur selaku pemegang kewenangan harus peka serta lebih memfokuskan kepentingan publik. Apalagi usulan DPRA yang ingin mengalihkan anggaran tersebut untuk pembangunan jalan tembus, subsidi listrik bagi rakyat miskin serta pembangunan irigasi patut diapresiasi. Oleh karena itu, saya berharap kepada DPRA haruslah cepat-cepat bertindak tegas dengan mengedepankan komitmen terhadap kepentingan publik," ujarnya. (Atjehpost.co)
comments | | Baca Selanjutnya...

Alumni STAIN Malikussaleh - Guru yang Juga Dosen Terbang

Penulis : Unknown on Friday, December 26, 2014 | 6:41 AM

Friday, December 26, 2014


HARI itu, T Chairul Mahdi bersama guru lainnya sedang bertugas sebagai guru piket di SMPN 1 Syamtalira Aron, di Simpang Mulieng, Kecamatan Syamtalira Aron, Aceh Utara. Chairul--panggilan akrab T Chairul Mahdi--ketika masa kuliah di STAIN Malikussaleh Lhokseumawe yang merupakan aktivis gerakan mahasiswa. 

Dia aktif sebagai pengurus inti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Ketua Majelis Mahasiswa (Mema) STAIN Malikussaleh. Chairul kerap terlibat dalam demonstrasi gerakan mahasiswa tahun 2000. Dia juga sebagai instruktur di organisasi mahasiswa Islam tersebut. Tapi, kini Chairul menjadi seorang guru berprestasi di SMPN 1 Syamtalira Aron.

Bahkan, sekarang dia dipercaya sebagai Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) pelajara agama Islam di kabupaten tersebut. Selain itu, Dinas Pendidikan dan Pemuda dan Olahraga dan Kementerian Agama Aceh Utara mempercayakan pria kelahiran Meurah Mulia itu sebagai fasilitator pelajaran agama Islam di kabupaten tersebut. Dia juga dipercaya sebagai pembuat soal ujian akhir sekolah (UAS) pelajaran agama Islam tahun 2010 dan 2011.

Selain menjadi guru, dia juga menjadi dosen terbang di STAIN Malikussaleh, Akbid Darussalam Lhokseumawe, dan STAI Al Aziziyah Samalanga, Bireuen. Lalu, apa obsesi akhir Chairul? “Saya ingin berbagi apa yang saya tahu kepada seluruh guru di Aceh Utara,”  ujar Chairul.

Meski telah menjadi guru dan dosen, mantan aktivis mahasiswa ini tak segan membantu orang tuanya Sulaiman dan Cut Khadijah Daud berjualan sayur di pasar Meurah Mulia, Aceh Utara. “Jualan sayur itu bagian dari pekerjaan sampingan saya, ya membantu orang tua. Jika libur mengajar, saya masih membantu orang tua turun ke sawah. Ini sebagai bentuk pengabdian saya,” pungkasnya.


siapa chairul?
- Nama: T Chairul Mahdi
- Lahir: Meurah Mulia, 11 April 1981
- Orang tua: Sulaiman dan Cut Khadijah Daud
- Alamat: Kandang, Lhokseumawe
- Prestasi: Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Pelajaran Agama Islam Aceh Utara, Fasilitator mata pelajaran Agama Islam Aceh Utara, Penulis naskah soal agama Islam, ujian akhir sekolah (UAS) Aceh Utara tahun 2010 dan 2011

Aceh.tribunnews.com
comments | | Baca Selanjutnya...

“Tuhan Membusuk” (Efek Paham Inklusivisme, Pluralisme Agama & Multikulturalisme)

Penulis : Unknown on Wednesday, December 17, 2014 | 8:54 PM

Wednesday, December 17, 2014


Oleh: Hartono Ahmad Jaiz
 
JAKARTA Apa itu inklusivisme?  Inklusivisme itu adalah faham yang berbahaya bagi Islam. Apa itu inklusivisme? Berikut ini penjelasan dari pihak mereka (orang-orang dari kelompok SEPILIS – Sekuler, Pluralis dan Liberal) sendiri:
Yang dikembangkan dalam Islam Liberal adalah inklusivisme dan pluralisme. Inklusivisme itu menegaskan, kebenaran setiap agama harus terbuka. Perasaan soliter sebagai penghuni tunggal pulau kebenaran cukup dihindari oleh faksi inklusif ini.
Menurutnya, tidak menutup kemungkinan ada kebenaran pada agama lain yang tidak kita anut, dan sebaliknya terdapat  kekeliruan pada agama yang kita anut. Tapi, paradigma ini tetap tidak kedap kritik. Oleh paradigma pluralis, ia dianggap membaca agama lain dengan kacamata agamanya sendiri.
Sedang paradigma plural (pluralisme): Setiap agama adalah jalan keselamatan. Perbedaan agama satu dengan yang lain, hanyalah masalah teknis, tidak prinsipil. Pandangan Plural ini tidak hanya berhenti pada sikap terbuka, melainkan juga sikap paralelisme. Yaitu sikap yang memandang semua agama sebagai jalan-jalan yang sejajar. Dengan itu, klaim kristianitas bahwa ia adalah satu-satunya jalan (paradigma eksklusif) atau yang melengkapi jalan yang lain (paradigma inklusif) harus ditolak demi alasan-alasan teologis dan fenomenologis (Rahman: 1996).
Dari Islam yang tercatat sebagai tokoh pluralis adalah Gus Dur, Fazlurrahman (guru Nurcholish Madjid, Syafi’I Ma’arif dll di Chicago Amerika, pen), Masdar F Mas’udi, dan Djohan Effendi. (Abdul Moqsith Ghazali, Mahasiswa Pascasarjana IAIN Jakarta, Media Indonesia, Jum’at 26 Mei 2000, hal 8). (Lihat Hartono Ahmad Jaiz, Tasawuf, Pluralisme dan Pemurtadan, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, cetakan pertama, 2001, hal 116-117).
Inklusivisme itu menganggap ada kebenaran pada agama lain yang tidak kita anut, dan sebaliknya terdapat  kekeliruan pada agama yang kita anut. Itu jelas meragukan benarnya Islam, maka di situlah rusaknya keislaman seseorang ketika sudah meragukan benarnya Islam; berarti dia telah keluar dari Islam alias murtad.
Masalah ini sebenarnya sangat berbahaya bagi Umat Islam. Namun, banyak yang tidak faham. Bahkan kaum terpelajar atau malahan sampai yang duduk di majelis yang disebut Majelis Ulama pun kadang tidak ngeh alias tak faham.
Contoh kasusnya seperti ini: Bagaimana bisa terjadi, MUI Bali kok pernah mengundang orang (yakni Eep Sefulloh Fatah) untuk diangsu (diambil) ilmunya, padahal anjuran darinya justru mengandung masalah yang sangat berbahaya bagi Islam. Ada ungkapan-ungkapan Eep yang berbahaya di antaranya:
  1. MUI yang telah berfatwa Juli 2005 tentang haramnya faham SEPILIS (sekulerisme, pluralisme agama alias menyamakan semua agama, dan liberalisme) –yang di antara dedengkotnya adalah Ulil— malah Eep menyarankan agar MUI menghormati Ulil. Ini sama dengan membiarkan MUI pusat mengeluarkan fatwanya, namun Eep cukup menggerilya MUI daerah seperti yang ia lakukan terhadap MUI Bali itu.
  2.  Eep menganjurkan bersikap inklusif, dengan mengatakan: “Jadi menurut saya yang terpenting adalah bersikap inklusif dengan ketegasan tertentu yang kita yakini, jangan bersikap eksklusif dengan ketegasan yang kita yakini.” Perkataannyaitu
    berbahaya, karenainklusivisme itu adalah faham yang
    berbahaya bagi Islam. (http://www.nahimunkar.com/eep-ajak-mui-bali-hormati-ulil/)
Inti faham inklusivisme: tidak menutup kemungkinan ada kebenaran pada agama lain yang tidak kita anut, dan sebaliknya terdapat  kekeliruan pada agama yang kita anut.
Bagi Islam, faham inklusivisme itu adalah faham kufur alias ingkar terhadap Islam, pelakunya disebut kafir. Karena telah mengingkari mutlak benarnya Islam yang telah ditegaskan dalam Al-Qur’an:
ذَلِكَ الْكِتَابُ لا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (٢)
Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. (QS Al-Baqarah 2 : 2)
Lebih dari itu, ketika inklusivisme meningkat jadi faham pluralism agama maka jelas sangat bertentangan dengan Islam. Karena menurut faham pluralisme agama, klaim bahwa ia (suatu agama, bagi muslim ya Islam) adalah satu-satunya jalan (paradigma eksklusif) atau yang melengkapi jalan yang lain (paradigma inklusif) harus ditolak demi alasan-alasan teologis dan fenomenologis.
Penolakan (terhadap aqidah Islam yang menegaskan Islam adalah satu-satunya jalan yang benar) itu sama dengan menolak Islam. Karena dalam Islam telah jelas :
{وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ} [آل عمران: 85] {وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ} [آل عمران: 85]
Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (QS Ali ‘Imran 3 : 85)
Menolak Islam itu sendiri adalah kufur, orangnya disebut Kafir. Nasib orang Kafir telah dijelaskan, kekal di neraka Jahannam selama-lamanya.
{إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أُولَئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ } [البينة: 6]
Sesungguhnya orang-orang yang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. (QS. Al-Bayyinah 98 : 6)
Jadi faham inklusivisme dan pluralisme agama itu adalah faham kufur yang sangat berbahaya bagi Islam. Menjadikan keyakinan Tauhid diganti dengan kekufuran. Bahkan masih ditingkatkan lagi dengan faham yang mereka sebut multikulturalisme, yang itu sama dengan pluralism agama, hanya saja semua kultur dianggap sejajar, parallel, dan tidak boleh ada yang mengklaim bahwa hanya kulturnya sendiri saja yang benar.
Ketika demikian maka dianggap sumber konflik. Padahal, agama (Islam) hanya dianggap sebagai sub kultur, bagian dari kultur atau bagian dari budaya. Sehingga ketika Islam jelas-jelas ajarannya mengklaim sebagai satu-satunya yang benar (mereka sebut eksklusivisme itu tadi) maka dianggapnya sumber konflik, maka dianggap sebagai musuh bersama. Itulah jahatnya faham multikulturalisme.
  • Kata multikulturalisme ini digunakan kelompok liberal sebagai usaha untuk tetap menyesatkan umat Islam yang mulai mengerti sesatnya pluralism agama yang pernah difatwakan sesat oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dan faham pluralism agama itu ditolak ormas-ormas Islam.
  • Celakanya, multikulturalisme ini sudah masuk ke kurikulum pendidikan agama Islam dari SD, SMP hingga SMA.
Yang cukup mencengangkan, pihak Kementerian Agama (Kemenag) sendiri justru sudah menerbitkan buku mengenai multikulturalisme ini. Salah satu judul buku Kemenag ini adalah“Panduan Integrasi Nilai Multikultur Dalam Pendidikan Agama Islam Pada SMA dan SMK.” (lihat Multikulturalisme Sama Bahayanya dengan Pluralisme http://www.nahimunkar.com/multikulturalisme-sama-bahayanya-dengan-pluralisme/)
Apa bahayanya? Bahayanya, tiga faham tersebut (inklusivisme, pluralisme agama, dan multikulturalisme) itu adalah semua menolak Islam yang menegaskan hanya Islam lah yang benar, yang diterima oleh Allah subhanahu wa ta’ala, yang pemeluknya yang beriman dan beramal shalih ikhlas untuk Allah maka dijanjikan surga oleh Allah Ta’ala. Penolakan itu adalah kekafiran. Bahkan kemusyrikan. Karena dalam riwayatnya, orang Majusi yang menolak haramnya bangkai lalu dibisikkan kepada kafir Quraisy agar membantah Islam tentang itu, kemudian dijawab oleh Allah Ta’ala :
{وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ} [الأنعام: 121]
..dan jika kamu menuruti mereka, Sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik. (QS. Al-An’am 6 : 121). (Lihat Tuhfatul Ahwadzi 7/391)
Ketika yang dibantah itu hanya satu bagian dari hukum Islam yakni haramnya bangkai saja ternyata bila diikuti maka menjadi orang-orang musyrik ; apalagi kalau yang dibantah itu seluruh Islam, disamakan dengan agama lain, maka jelas-jelas lebih nyata jadi orang musyrik. Dan itulah yang dilakukan oleh faham inklusivisame, pluralisme agama, dan multikulturalisme. Jadi tidak lain hanyalah kemusyrikan baru yang sangat dahsyat, namun karena istilahnya bukan dari Islam, maka Umat Islam banyak yang tidak tahu dan tidak menyadari bahwa inklusivisme, pluralisme agama, dan mukltikulturalisme itu adalah kemusyrikan baru..
Ketika yang dikembangkan di pendidikan tinggi Islam se-Indonesia, bahkan kini Kementerian Agama telah membuat panduan buku mutikulturalisme dalam apa yang disebut “Panduan Integrasi Nilai Multikultur Dalam Pendidikan Agama Islam Pada SMA dan SMK,” maka sebenarnya yang dilakukan oleh Kementerian Agama dan juga perguruan tinggi Islam se-Indonesia adalah pemusyrikan.
Maka benarlah buku Hartono Ahmad Jaiz berjudul Ada Pemurtadan di IAIN. Maksudnya adalah di perguruan-perguruan tinggi Islam di Indonesia. Bahkan kini Kementerian Agama sudah menggarap sampai tingkat SMA dan SMK. Sehingga, namanya pendidikan (Islam) namun sejatinya pemusyrikan.
Oleh karena itu, ketika ada isu Kementerian Agama akan dihapus, maka saya tulis artikel tentang kiprah pemusyrikan Kementerian Agama itu; makanya untuk apa disedihi, kalau toh antinya dihapus. Kecuali kalau kiprah Kementerian Agama itu untuk I’laai kalimatillahi hiyal ‘ulya, maka baru perlu disedihi bila dihapus. (lihat Isu Kementerian Agama Dihapus, Pembela Ahmadiyah Diangkat By nahimunkar.com on 17 September 2014)
Dari kiprah pendidikan tinggi Islam di Indonesia yang justru melancarkan pemusyrikan baru semacam itu, maka tidak mengherankan, di antara tokohnya seperti Azyumardi Azra yang kini jadi Kepala Sekolah Pasca Sarjana UIN Jakarta telah bangga dengan biografinya yang jelas-jelas menuturkan pembelaannya terhadap agama musuh Islam yakni Ahmadiyah.(lihat Azra “Jawara” Pembela Ahmadiyah Agama Nabi Palsu http://www.nahimunkar.com/azra-jawara-pembela-ahmadiyah-agama-nabi-palsu/ )
Betapa Memprihatinkannya
Lebih memprihatinkan lagi, Azra pembela Ahmadiyah agama bikinan nabi palsu itu kini muncul dalam nominasi Kabinet Jokowi-JK. (lihat Penghalal Homosex, Pembela Ahmadiyah, dan Tokoh Komunis Muncul di Nominasi Kabinet Jokowi-JK.
Kabinet Alternatif Usulan Rakyat (KAUR) terdiri dari kalangan komunis, liberal muncul sebagai kandidat calon menteri. By nahimunkar.com on 19 September 2014 http://www.nahimunkar.com/penghalal-homosex-pembela-ahmadiyah-dan-tokoh-komunis-muncul-di-nominasi-kabinet-jokowi-jk/).
Lebih Dahsyat Daripada Kejahatan Pembunuhan
Itu semua berbahaya bagi Umat Islam. Kenapa berbahaya? Karena pemusyrikan baru yang dilancarkan di dalam pendidikan Islam di Indonesia dengan nama inklusivisme, pluralism agama, dan multikulturalisme itu menurut Al-Qur’an adalah lebih dahsyat bahayanya dibanding pembunuhan fisik. Karena kalau seseorang itu yang dibunuh badannya, sedang hatinya masih beriman (bertauhid), maka insya Allah masuk surga.
Tetapi kalau yang dibunuh itu imannya, dari Tauhid diganti dengan kemusyrikan baru yakni inklusivisme ataupun pluralism agama, ataupun multikulturalisme, maka masuk kubur sudah kosong iman tauhidnya berganti dengan kemusyrikan; maka masuk neraka. Hingga ditegaskan dalam Al-Qur’an:
وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ [البقرة/191]
dan fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan. (QS Al-Baqarah: 191)
وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ [البقرة/217]
Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. (QS Al-Baqarah: 217).
Arti fitnah dalam ayat ini adalah pemusyrikan, yaitu mengembalikan orang mu’min kepada kemusyrikan. Itu dijelaskan oleh Imam At-Thabari dalam tafsirnya:
عن مجاهد في قول الله:”والفتنة أشدُّ من القتل” قال: ارتداد المؤمن إلى الوَثن أشدُّ عليه من القتل. –تفسير الطبري – (ج 3 / ص 565)
Dari Mujahid mengenai firman Allah وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ ia berkata: mengembalikan (memurtadkan) orang mu’min kepada berhala itu lebih besar bahayanya atasnya daripada pembunuhan. (Tafsir At-Thabari juz 3 halaman 565).
Itulah betapa dahsyatnya pemusyrikan yang kini justru digalakkan secara intensip dan sistematis di perguruan tinggi Islam se-Indonesia, bahkan sudah dilancarkan pula ke sekolah-sekolah.
Baru-baru ini pengenalan mahasiswa baru di UIN Surabaya, tema utamanya adalah “Tuhan Membusuk”. Keruan saja Umat Islam marah terhadap bahaya yang sangat melecehkan Islam itu. (Lihat IAIN atau UIN Banyak Melahirkan Kader Sekuler, Liberal dan Kiri.
Tuhan tidak akan membusuk justru yang membuat tema ‘Tuhan Membusuk’ lah yang akan membusuk, dan wajib diseret ke penjara karena sudah melecehkan Tuhan berarti melecehkan agama. By nahimunkar.com on 18 September 2014 http://www.nahimunkar.com/iain-atau-uin-banyak-melahirkan-kader-sekuler-liberal-dan-kiri/).
Relakah generasi Muslim yang menjadi mayoritas penduduk Indonesia bahkan merupakan penduduk yang jumlah Muslimnya terbesar di dunia ini dibunuhi imannya secara sistematis dijadikan pelaku-pelaku kemusyrikan baru dengan sebutan inklusivisme, pluralism agama, dan multikulturalisme itu?
Relakah generasi dan anak-anak Muslim se-Indonesia ini dijerumusukan oleh para pembawa ajaran kemusyrikan baru itu?
Dan relakah negeri ini menyedot uang dari rakyat (ingat, 70 persen penghasilan Negara adalah dari pajak, dan itu tentu disedot dari penduduk) yang mayoritas Muslim namun justru untuk membiayai perusakan iman Umat Islam diganti dengan kemusyrikan baru yang akan menjerumuskan ke neraka kekal selama-lamanya?
Relakah wahai saudara-sauadara? [edt; GA]

Panjimas.com
comments | | Baca Selanjutnya...

Bahayanya Pemurtadan Melalui Pemikiran

Penulis : Unknown on Sunday, December 14, 2014 | 10:57 PM

Sunday, December 14, 2014


Oleh Ust.Felix Siauw

"Tentang Pemurtadan Terselubung dan Terang-terangan, Pemurtadan Fisik dan Pemurtadan Pemikiran"
Beberapa waktu ini kita kembali diingatkan tentang bahaya aqidah, yaitu paya pendangkalan aqidah bahkan pemurtadan di tempat-tempat umum. 

Sebenarnya ini bukan hal aneh, karena kaum kafir memang secara tersistematis akan berusaha memalingkan kita dari agama yang haq. Berkaitan hal ini, Allah mengingatkan berulang kali dalam Al-Qur'an, bahkan sampai melarang pemimpin kafir, karena bahaya semisal ini

Segala cara mereka gunakan untuk mendangkalkan aqidah ummat | mulai dari simbol, pemaksaan, nikah beda agama, sampai cara yang tak pantas
Berbicara tentang pemurtadan, maka pemurtadan ada dua jenis
1. Pemurtadan secara fisik
2. Pemurtadan pemikiran

Jenis pertama, kita banyak saksikan di video investigasi yang beredar saat ini | pembagian roti bertulis khas Kristen, kalung merpati, dan lain-lain, bahkan ada pula yang melakukan pembabtisan terselubung, bakti sosial yang di dalamnya dakwah sasaran empuknya kaum marjinal tak terdidik

Pemurtadan fisik ini berbahaya, namun hanya berlaku bagi yang tak terdidik lemah ekonomi | begitu terdidik kaum Muslim, ini tak berarti

Yang lebih berbahaya sebetulnya adalah pemurtadan jenis kedua, pemurtadan pemikiran, ini jauh lebih berbahaya dari pemurtadan fisik. Karena bila yang datang orang kafir berkalung salib, ummat akan waspada, bagaimana bila yang datang Muslim, tapi berpikir selayaknya kafir?

Inilah yang dituju oleh banyak misionaris, cangkang Muslim namun isinya beracun, merusak dan menjauhkan ummat dari Islam, Yang sudah murtad secara pemikiran ini masih Muslim, namun permisif terhadap kekufuran, mendukung kekufuran, dan anti-Islam
 

Coba simak kutipan Samuel Zweimer, misionaris global

“Misi utama kita bukan menghancurkan kaum Muslim sebagai seorang kristen. Tujuan kalian adalah mempersiapkan generasi baru yang jauh dari Islam, generasi yang sesuai dengan kehendak kaum penjajah, generasi malas yang hanya mengejar hawa nafsu (walaupun mereka muslim).”

Generasi yang sudah murtad secara pemikiran ini pun jauh dari Islam, mereka lebih akrab dengan nilai selain Islam, walaupun masih Muslim, mereka membuka jalan kekufuran

Lalu bagaimana caranya kita merespons terhadap pemurtadan fisik ataupun pemikiran? Islam memandu kita untuk melakukan 3 hal

Pertama, secara individual menguatkan aqidah, membentengi diri kita dan diri orang lain dan meyakini bahwa agama yang benar hanya Islam. Berpikir lalu menemukan bukti-bukti yang tak terbantahkan Islam itu haq, dan mencari alasan "kenapa aku harus jadi seorang Muslim?"

Kedua, berdakwah secara berjamaah, amar ma'ruf nahi munkar secara baik dan santun, baik mendakwahi ummat kita atau ummat lainnya. Dengan berjama'ah insyaAllah ummat akan lebih resisten dan aware terhadap segala bentuk pemurtadan yang terjadi, fisik atau pemikiran

Ketiga dan yang paling berefek, dengan penerapan syariah Islam oleh negara, ini bentuk tertinggi dari perlindungan aqidah ummat

di masa Rasulullah dan para Khalifah, kaum Nasrani dijamin hidup dan ritual agamanya, namun dilarang bila berdakwah di ruang publik

Negara pula yang bertugas menjamin ekonomi ummat agar sejahtera dan kuat, hingga tidak mudah terpengaruh karena desakan ekonomi. Misalnya, Rasulullah pernah membangun "Pasar Kaum Muslimin" di Madinah yang berdampingan dengan pasar Yahudi dan Nasrani sebagai penguat ekonomi

Negara pun memfasilitasi kemudahan dakwah dan bahkan negara sendiri yang mengemban dakwah Islam, mengenalkan kebaikan Islam bagi semua

Fungsi ini yang belum dijalankan di Indonesia, negaranya tidak menjaga aqidah ummat, alasannya "karena ini bukan negara agama". Kadang-kadang saya berpikir, Muslim di Indonesia ini setengah-setengah, maunya dibilang beragama, tapi bernegara "tanpa agama"

Maka secara hukum negara, tindakan pemurtadan tidak bisa ditindak oleh negara, bila dilakukan dengan 'legal' menurut hukum negara. Tidak begitu saat syariat Islam diterapkan di masa Rasulullah saw, tugas negara salah satunya yang penting, adalah melindungi aqidah

Bagi para orangtua, renungkan kisah Nabi Ya'kub saat menjelang kematian, yang dia khawatirkan bukan harta, bukan tahta, namun iman

"..ketika Ya'kub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: "Apa yang kamu sembah sepeninggalku?" (QS 2:133)

Maka carilah ilmu tentang kebenaran Islam, ajarkan pada anak-anak, lalu berjama'ahlah dalam kebaikan, dan perjuangkanlah Islam agar bisa mewujud dalam negara, agar negara itu juga mengemban dakwah Islam

Mudah-mudahan Allah menguatkan iman di dada kita, menjaga baiknya iman itu dalam keseharian, dan mewafatkan kita dalam keadaan beriman
comments | | Baca Selanjutnya...

Toleransi "Omong Kosong"

Penulis : Unknown on Friday, December 12, 2014 | 12:13 AM

Friday, December 12, 2014

PERASAAN yang berkecamuk dan kemirisan yang mendalam kembali saling merebut tempatnya dalam hati kita selaku umat Islam, ketika tersiar kabar tertangkapnya seorang pendeta Kristen bersama tiga orang stafnya karena diduga telah membaptis sejumlah pemeluk Islam di Bener Meriah dan daerah lainnya di Aceh, pada Juni lalu. Hal ini terungkap berdasarkan laporan seorang warga setempat yang mengaku telah dibaptis di satu hotel di kawasan Berastagi, Sumatera Utara (Serambi, 21/6/2013).

Upaya pembaptisan tersebut pada awalnya dilakukan dengan dalih ikut pelatihan pertanian dan dijanjikan uang serta jalan-jalan ke Singapura dan Bali. Ironisnya, proses pemurtadannya tidak terlepas dari “jasa” warga Bener Meriah sekaligus saudaranya sendiri, yang telah dibaptis sejak 2012 lalu. Dalam penangkapan ini, polisi turut pula menyita sebuah Injil berbahasa Aceh (Serambi, 21/6/2013).

Peristiwa pemurtadan ini bukanlah hal baru dan pertama terjadi di negeri Serambi Mekkah ini, bahkan di Indonesia sekalipun. Sudah begitu lama para misionaris kristen melancarkan aksinya untuk membuat orang Islam meninggalkan agamanya dan beralih ke agama mereka. Rasanya sungguh tidak mungkin bila hanya dilandasi dengan embel-embel “mencari domba tersesat” sebagai sebuah perintah tertinggi dari gereja tanpa didanai dengan dana berlimpah sehingga memudahkan mereka dalam menjalankan misinya.
Lantas, bagaimana seharusnya kita selaku pewaris Islam bersikap melihat fenomena yang bisa dikategorikan sebagai penodaan dan penistaan agama ini? Apakah kita hanya berdiam diri dan lebih memilih menjadi ‘patung’ saja ketika orang tua, sanak saudara dan famili kita ‘dipaksa’ menjual keimanannya dengan berbagai fasilitas yang ditawarkan oleh agama lain? Rasanya sungguh tidak elok bila peralihan agama ini selalu dikaitkan dengan status sosial dan kesempitan ekonomi yang melanda masyarakat.

 Toleransi kebablasan
Satu pilar kebangsaan Indonesia adalah Bhinneka Tunggal Ika (Walaupun berbeda-beda tetapi tetap bersatu). Dan tentu saja salah satu instrumen paling penting dalam mewujudkan maksud dan tujuan Bhinneka Tunggal Ika adalah toleransi antar beragam agama, suku, ras dan antar golongan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Bersedia jujur atau tidak, fakta di lapangan selalu berbicara bahwa Islamlah yang menjadi korban dari pilar kebangsaan tersebut.
Ketika persoalan Ahmadiyah, Syiah, Irshad Manji, Lady Gaga, tragedi di Ambon dan Poso sampai permasalahan sulitnya memperoleh izin pembangunan gereja di daerah penduduk yang mayoritas Islam mencuat, misalnya, Islam selalu dicecar dengan tuntutan kata yang sama, toleransi. Bahkan ketika ada daerah yang ingin menerapkan syariat Islam sebagai peraturan daerahnya, masyarakat muslim masih saja  dikoreksi dan digugat bahkan dihujat habis dengan tuduhan intoleransi oleh kalangan kelompok yang selalu mencomot kebebasan hak azasi sebagai simbol resminya.
Intinya, para pengusung toleransi agama selama ini tidak pernah berhenti menuduh bahwa muslim adalah masyarakat yang tidak toleran terhadap umat agama lain. Anehnya, ketika sikap intoleransi dipraktekkan dan dipertontonkan oleh penganut dan pemimpin agama lain terhadap umat muslim, para pejuang demokrasi toleransi dan hak azasi tidak sedikitpun menampakkan kegusarannya alih-alih menyuarakan dan mengampanyekan hal yang sama.

Ironis memang, ketika ada pepatah mengungkapkan “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”, seolah-olah hanya diperuntukkan kepada umat Islam saja. Sementara umat lain, bebas bersikap di belahan manapun bumi ia pijak. Kondisi tersebut dapat kita ketahui dan kita rasakan bersama. Di Eropa, misalnya, yang mayoritas penganut Kristen, umat muslim yang menjadi minoritas dipaksa untuk mengikuti aturan-aturan negara yang tidak sedikit menyalahi aturan agama Islam itu sendiri.

Kondisi tidak kalah parah terjadi di negara tetangga ASEAN kita, Myanmar. Atas nama kekhawatiran meningkatnya pengaruh Islam sebagai agama minoritas, warga muslim di sana pun dikejar, diusir, dan bahkan dibantai habis. Belum lagi ditambah karikatur Nabi Muhammad SAW yang diperkenankan untuk dibuat di negeri Barat. Lalu, dimana para ‘pejuang toleransi’ beragama dan suku bangsa ‘bersembunyi’ ketika umat Islam terjepit dengan sikap intoleransi umat lain?

Menelisik sejarah peradaban dan keagamaan di Aceh, semua orang mengetahui dan mengakui kalau Aceh adalah satu daerah ‘kekuasaan’ umat Islam sehingga pada akhirnya dijuluki Serambi Mekkah. Semua pihak sepakat bahwa mayoritas penduduk yang mendiami wilayah Aceh adalah muslim. Dan hal ini juga masih berlaku sampai sekarang. Pun begitu, ketoleransian umat muslim di Aceh terhadap penganut agama lain sangat tinggi.
Sebagai contoh, ketika bulan Ramadhan tiba, warung-warung nasi tetap dibuka khusus untuk non-muslim. Begitu juga ketika peringatan dan perayaan hari-hari besar non-Islam. Para warga non-muslim tidak pernah menemui kendala berarti dalam pelaksanaannya. Rasanya para penda’i muslim tidak pernah mendatangi rumah-rumah non-muslim untuk ‘memperdagangkan’ agama Islam.

Bahkan, tidak ada kewajiban bagi perempuan kristen untuk memakai penutup kepala kendati para wanita muslim dituntut untuk memperlihatkan auratnya ketika berada di negara mayoritas Kristen. Akan tetapi, sikap toleransi umat Islam di Aceh terkadang tidak dihormati dan dihargai, apalagi diikuti oleh para penganut agama lain. Para pemimpin agama non-Islam di Aceh saat ini seolah-olah melupakan hukum alam bahwa umat mereka harus menghormati Islam sebagai agama resmi rakyat Aceh.

 Seakan tidak peduli
Sayangnya, kita sebagai umat Islam pun seakan-akan tidak peduli lagi dengan kondisi mengkhawatirkan ini. Sebagian dari kita bahkan sibuk mengurusi masalah furu’iyyah ibadah (masalah yang tidak  pokok dalam ibadah), seperti legalitas pemakaian tongkat khatib, zikir dan doa berjamaah, mencium tangan ulama ketika bersalaman, kenduri kematian ataupun peusijuek sehingga mengklaim sesat dan kufur hanya dengan alasan yang sangat sederhana, tidak ada nash dari Alquran dan hadis, dan meninggalkan masalah pokok dan prinsipiil yang seharusnya diberi perhatian yang lebih besar.

Kita jangan terlalu berharap persoalan misionaris ini diperhatikan dan diselesaikan dengan serius oleh Pemerintah Aceh. Mengapa? Ya, mungkin saja para pemangku jabatan Pemerintahan Aceh belum benar-benar mengerti tentang posisi Islam dalam pandangan Allah Swt yang diyakini sebagai Tuhannya. Buktinya untuk pengesahan seluruh qanun syariat Islam saja, kita perlu menunggu datangnya pemilu lagi.

Barangkali, pemimpin kita telah memundakkan persoalan-persoalan yang terkait dengan Islam kepada Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) saja atau Kepala Dinas Syariat Islam. Karena itu, seluruh elemen masyarakat muslim non-pemerintah di Aceh harus bersatu menumpas gerakan pemurtadan ini. Sudah saatnya kita membela hak-hak kita yang telah diusik oleh para pemimpin agama lain yang ‘menawarkan kebenaran’ agamanya dengan lembaran tiket ke Bali dan Singapura.

Kita patut memberikan apresiasi kepada pihak Kepolisian yang cepat mengambil langkah pengamanan terhadap upaya penista agama di bumi Serambi Mekkah ini. Kita juga berharap kiranya pihak Kepolisian mengambil langkah hukum tegas pula terhadap kasus pemurtadan yang dilakukan oleh para misionaris itu. Sebab, ini menjadi bukti kuat bahwa mereka telah merongrong Bhinneka Tunggal Ika sebagai pilar kebangsaan Indonesia. 

Khairul Azfar, Mahasantri Ma’had ‘Aly, dan Anggota Lajnah Bahtsul Masa-il (LBM) LPI MUDI Masjid Raya, Samalanga, Bireuen. Email: ibnujunaidalhanafi@gmail.com
comments | | Baca Selanjutnya...

Mendikbud anggap Berdoa di Sekolah Pemaksaan Agama, Astaghfirullah !

Penulis : Unknown on Wednesday, December 10, 2014 | 9:29 PM

Wednesday, December 10, 2014


Anies Baswedan menyebut masalah doa di sekolah menimbulkan masalah.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan mengatakan kementeriannya sedang mengevaluasi proses belajar mengajar yang selama ini berlangsung di sekolah-sekolah negeri. Salah satu yang sedang dievaluasi terkait dengan tata cara membuka dan menutup proses belajar.
"Saat ini kita sedang menyusun, tatib soal aktivitas ini, bagaimana memulai dan menutup sekolah, termasuk soal doa yang memang menimbulkan masalah. Ini sedang direview dengan biro hukum," ujar Anies dalam jumpa pers di kantornya, Gedung Kemendikbud, Jalan Jend Sudirman, Jakarta, Senin (1/12/2014).
Di Twitter, Yusuf Mansur langsung bereaksi atas rencana Menteri Pendidikan tersebut. Yusuf Mansur pun langsung mengajukan protes dengan menghubungi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan.
Yusuf Mansur menyatakan kegeramannya jika memang kebijakan tersebut dilakukan pemerintah. Ia mempertanyakan mengapa pemerintah seolah semakin alergi saja dengan Islam dan simbol-simbol agama Islam.
"Ampun, ampun yaaa Allah. ampunin kami. bukannya bela agama-Mu. malah jd begini," ujarnya.
"Selama ini, toleransi dah jalan dg sangat damai. yaaa Allah, jahat dan bodoh banget sih mereka2 ini. apalagi kalo ia adalah muslim jg".
"Saya dulu diem. dan ngebela siapapun yg memerintah. tapi kalo sampe nyentuh udah urusan kayak doa di awal pg di sekolah2, males banget diem," tegasnya.

Sebelumnya, Anies mengatakan hal itu menjawab pertanyaan tentang adanya keluhan sejumlah orangtua murid terhadap tata cara "dominan agama" tertentu dalam proses belajar mengajar. Hal itu membuat siswa penganut agama lain menjadi tidak nyaman.
"Sekolah di Indonesia mempromosikan anak-anak taat menjalankan agama, tapi bukan melaksanakan praktik satu agama saja," tuturnya.
Menurut Anies, sekolah negeri bukanlah tempat untuk mempromosikan keyakinan agama tertentu. Sesuai dengan asas pemerintah menjamin kemerdekaan beragama di Indonesia, sekolah seharusnya memberikan kesetaraan bagi penganut agama lainnya.
"Sekolah negeri menjadi sekolah yang mempromosikan sikap berketuhanan yang Maha Esa, bukan satu agama," tutup Anies. (*dtk/rol)
comments | | Baca Selanjutnya...

Cegah Harga Barang Tak Terkendali, Pemerintah Diminta Segera Umumkan Kenaikan Harga BBM

Penulis : Unknown on Monday, November 17, 2014 | 7:13 AM

Monday, November 17, 2014







Jurnalogika - Rektor Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Denpasar Prof Sri Darma berharap pemerintah segera mengumumkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Pasalnya, rencana itu memicu naiknya harga barang dan kebutuhan bahan pokok masyarakat.
"Untuk mengantisipasi hal itu, pemerintah harus segera mengumumkan naiknya harga BBM agar harga berbagai barang di pasaran bisa dikendalikan," kata Sri Darma di Denpasar, Minggu (16/11/2014), seperti dikutip Antara.
Sri Darma mengatakan, naiknya sejumlah harga barang sebelum keluarnya pengumuman resmi kenaikan harga BBM oleh pemerintah merupakan hal yang wajar. Psikologi pasar terpengaruh akan isu kenaikan harga BBM.
Dalam kondisi demikian, pelaku bisnis akan melakukan penyesuaian harga berbagai jenis barang yang dijualnya.
Selain itu, kata dia, ada juga spekulan yang mencoba peruntungan dengan memanfaatkan jeda waktu sebelum harga baru BBM diberlakukan dengan menaikan berbagai harga barang di pasaran.
Ia menambahkan, untuk mengantisipasi hal tersebut, pengumuman harga BBM baru harus segera dilakukan agar tidak terjadi pergerakan harga yang tidak terkendali. Dengan demikian, diharapkan pelaku usaha memiliki kepastian untuk menyesuaikan besaran kenaikan berbagai biaya produksi yang berpengaruh terhadap kenaikan harga jual.

Rencana kenaikan harga BBM, menurut Sri Darma, merupakan dilema bagi pemerintah. Jika harga BBM tidak naik, maka akan membebani APBN dan jika dinaikan pemerintah memang akan mendapat dana segar untuk pembagunan dari pengurangan subsidi BBM.

Namun, penyesuai harga BBM tersebut membuat sebagian rakyat akan menjerit. Semua hal itu mesti diantisipasi oleh pemerintahan baru Presiden Jokowi dengan program "kartu saktinya" sehingga rakyat kecil tidak makin terhimpit.

Denga naiknya harga BBM subsidi, Sri Darma berharap pembangunan akan lebih tepat sasaran dan lebih pesat lagi.

Sebelumnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan bahwa kenaikan harga BBM akan diumumkan setelah Jokowi kembali ke Tanah Air dari lawatan ke luar negeri.


Menurut JK, jumlah kenaikan nanti akan dikalkulasi berdasarkan harga minyak dunia yang turun menjadi sekitar 80 dollar AS dan melemahnya rupiah.


Tujuan pemerintah menaikkan harga BBM adalah mengalihkan subsidi ke konsumtif menjadi produktif, seperti pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan.(Dikutip Teuku Reza)

Kompas.com
comments | | Baca Selanjutnya...

Jurnalogika Team

dakwah.stainmal.ac.id

Blogroll

Iklan

Comments
Comments
 
Design Template by Teuku Reza Rizki | Support by creating website | Powered by Said Arif Tirtana