KoranJurnalogika.blogspot.com- Awal-awal kemerdekaan, dalam berbagai rapat dan rumusan
yang dihasilkan sejumlah tokoh Indonesia adalah masa-masa yang
menegangkan untuk wakil umat Islam. Ujung dari ketegangan itu adalah
hilangnya tujuh kata dari piagam Jakarta atau The Jakarta Charter
yang sebelumnya telah dirumuskan dan disepakati oleh 9 orang dari wakil
masing-masing golongan. Mereka adalah Soekarno, Mohammad Hatta, A.A
Maramis, Abikoesno Tjokrosoejoso, Prof. Abdul Kahar Muzakir, Haji Agus
Salim, Achmad Soebardjo, Abdul Wachid Hasjim dan Muhammad Yamin.
Dalam proses-proses
inilah, untuk pertama kalinya Soekarno mengemukakan konsep dan pemikiran
tentang lima dasar di mana Indonesia harus berdiri, yakni pancasila. Di
depan anggota sidang Dokuritsu Zyunbai Tyoosakai atau Badan Penyelidik
Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), tanggal 1 Juni 1945,
Soekarno membeberkan pidatonya.
Dalam pidato di depan
sidang BPUPKI itulah Soekarno mengajukan pikirannya tentang lima asas
sebagai dasar negara Indonesia. Kelima asas negara itu adalah,
kebangsaan Indonesia, internasionalisme atau perikemanusiaan, mufakat
atau demokrasi, kesejahteraan social dan ketuhanan. Kelima asas ini
dinamakan sendiri oleh soekarno sebagai Panca Sila. Proses itu terjadi
setelah ia bertanya pada seorang ahli bahasa. Tak disebutkan siapa yang
dimaksud soekarno dengan ahli bahasa tersebut.
Ketika menjabarkan tentang nasionalisme dan internasionalisme soekarno mengatakan :
“saya mengaku, pada waktu saya berumur 16 tahun, duduk di bangku
sekolah. H.B.S di Surabaya, saya dipengaruhi oleh seorang sosilalis yang
bernama A. Baars, yang member pelajaran kepada saya,— katanya : jangan
berfaham kebangsaan, tetapi berfahamlah rasa kemanusiaan sedunia, jangan
mempunyai rasa kebangsaan sedikitpun. Itu terjadi pada tahun 17. Tetapi
pada tahun 18, Alhamdulillah, ada orang lain yang memperingati saya,— ialah Dr. Sun Yat Sen! Di dalam tulisannya “San Min Chu I” atau “The Three People’s Principles”, saya
mendapatkan pelajaran yang membongkar kosmopolitanisme yang diajarkan
oleh A. Baars itu. Dalam hati saya sejak itu tertanamlah rasa kebangsaan
oleh pengaruh “The Three People’s Principles”. Maka oleh karena itu,
jikalau seluruh bangsa tionghoa menganggap Dr. Sun Yat Sen sebagai
penganjurnya, yakinlah, bahwa Bung Karno juga seseorang Indonesia yang
dengan perasaan hormat sehormat-hormatnya merasa berterima kasih kepada
Dr. Sun Yat Sen,— sampai masuk lubang kubur.
Garuda Pancasila
Burung garuda yang digantungi perisai itu ialah lambang tenaga
pembangun. Dikenal dalam peradaban nusantara, mitos yang dilukiskan di
candi Dieng, Prambanan, dan Panataran. Ada kalanya dengan memakai
gambaran berupa manusia dengan berparuh burung dan bersayap, sebagaimana
di Dieng yang sangat mirip dengan gambaran dewa Horus di Mesir.
Kemudian di candi Prambanan dan Sukuh rupanya seperti burung dengan
paruh panjang yang melambangkan proses perjalanan kepada keabadian.
Meskipun rupanya agak berbeda, tetapi ide dan konsepnya sama dengan
mitos burung phoenix yang menjadi salah satu dari sekian
banyak simbol Freemasonry. Sedangkan untuk bendera negara yang terdiri dari merah-putih, oleh penyuka teori-teori
secret society, symbology, elite system,
dan sebagainya, merah-putih merupakan alegori mistik lambang papan
catur hitam-putih dalam tradisi Freemason yang ide dasarnya diambil
dari
floor checkered. Bentuk alegori lainnya seperti biru-putih
pada bendera Israel. Dan masih banyak lagi hidangan permainan simbol
semacam ini, terutama yang diperuntukkan bagi Indonesia dan
pondasi-pondasi negaranya.
Dewa Horus
Perancang Lambang Negara Indonesia atau Garuda Pancasila adalah
Sultan Hamid II. Jika melihat fakta yang ada sekarang ini, tentu kita
harus melihat perjuangan dalam waktu penjajahannya juga. Lalu bagaimana
dengan sosok Sultan Hamid II? Sultan Hamid II adalah sebuah gelar dengan
nama asli Syarif Abdul Hamid Alkadrie. Ia mewarisi darah masonik dari
garis Abdul Rachman, Sultan Pontianak yang terdaftar dalam Freemason di
Surabaya pada 1944. Jenjang pendidikan Sultan Hamid II adalah sekolah
dasar Belanda, bahkan termasuk salah seorang Indonesia yang disekolahkan
di sekolah militer Belanda di Breda.
Gerakan pemuda seperti Boedi Oetomo atau
perkumpulan Jong dari berbagai propinsi, sejatinya adalah senjata
kelompok Freemason atau dalam bahasa Belanda Vrijmetselarij yang turut
berperan dalam proses kemerdekaan Indonesia, di mana kemerdekaan
Indonesia sendiri bukanlah karena murni berdasarkan ide kemerdekaan yang
dicantumkan dalam Pembukaan UUD 45. Melainkan atas gagasan untuk
menjadikan Indonesia sebagai lahan perah bagi kepentingan Freemason.
Mengapa? Karena sejumlah tokoh bangsa adalah anggota perkumpulan
tersebut.
Monsterverbond adalah kelompok elit dalam VOC yang terdiri dari tiga
pilar seperti disimbolkan dalam lambang mason. Dua pilar utama yang
melambangkan pilar Jachin dan Boaz adalah gerbang menuju pilar
selanjutnya dalam simbol kuil Solomon yang disebut altar batu.
Monsterverbond dalam VOC digerakkan oleh dua orang asing dan seorang
pribumi. Sejatinya Monsterverbond yang menjadi elit penggerak dalam VOC
adalah bagian dari kelompok Freemasonry atau Vrijmetselarij. Dalam
sejarah Indonesia pola ini terus menerus dipertahankan. Oleh karena itu
banyak tokoh-tokoh di era awal kemerdekaan Indonesia juga masuk dalam
kelompok Freemasonry ini, dan tanpa pernah ditulis di buku-buku sejarah
sekolahan, merupakan rekanan dengan tokoh-tokoh VOC.

Perisai pada dada Garuda serupa dengan
perisai-perisai di beberapa negara yang dikendalikan oleh Freemason,
seperti contohnya Inggris. Atau jauh ke belakang sama halnya dengan
lambang Ksatria Templar yang kerap diasosiakan dengan pemuja setan yang
menyembah Dajjal. Lambang bintang lima di dada Garuda adalah simbol
kepala Baphomet, kambing jantang jelmaan iblis. Sengaja ditaruh terbalik
untuk mengaburkan bintang pentagram tersebut. Adapun lambang rantai
merupakan simbol untuk garis darah (bloodline) kelompok
illuminati atau sejenisnya yang menjaga (gatekeeper) keberlangsungan
gerakan freemason. Pohon Beringin adalah simbol pohon Sephiroth dalam
tradisi mistik Kabbala. Kepala Banteng adalah simbol sapi Samiri yang
menjadi sesembahan orang Yahudi ketika Moses meninggalkannya. Dan
terakhir adalah padi dan kapas yang tidak ada bedanya dengan zaitun dan
gandum yang digenggam elang Amerika Serikat, simbol kesuburan atau
sumber kehidupan utama kehidupan manusia yang dijadikan lahan perah,
atau sumber daya yang harus dihisap dan dikendalikan oleh Freemason.
Intinya adalah Garuda Pancasila dianggap murni representasi
simbol-simbol Freemason, Knight Templar, Illuminati, dan sebagainya yang
dianggap sebagai pengikut Dajjal.
Berikut di atas adalah sebagian kecil dari tudingan kelompok-kelompok
penggemar teori konspirasi seputar Freemasonry, Illuminati,
Anti-Kristus, dan sebagainya. Kalau di Indonesia fenomena semacam ini
kadang dikaitkan dengan propaganda meninggalkan bentuk negara dan sistem
pemerintahan NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 45, sambil
mengelukan serta mengusung ideologi Negara Islam. Entah dengan berkedok
organisasi dan atas nama apapun, yang telah banyak disebarluaskan di
Indonesia. Karena mereka berpendapat bahwa cengkraman Freemason di
Indonesia begitu kuat, saking kuatnya telah menghapuskan 7 kata sakral
dari piagam Jakarta sebagai cikal bakal Pancasila, dan menjadikan
Pancasila sebagai poros ideologi sekuler utama untuk Indonesia. Termasuk
dengan bentuk NKRI yang telah final ini ialah hasil rekayasa kesesatan
yang sangat gamblang.
Pancasila dalam Doktrin Zionisme dan Freemasonry
Gerakan Zionisme dan Freemasonry di seluruh dunia sesungguhnya
memiliki asas yang sama. Asas dari dua gerakan ini disebut “Khams
Qanun”, lima sila, atau Panca Sila. Kelima Sila itu adalah:
1. Monotheisme
2. Nasionalisme
3. Humanisme
4. Demokrasi
5. Sosialisme
Penjelasan tentang lima sila yang terdapat dalam doktrin Yahudi tersebut adalah sebagai berikut:
1. Monotheisme: Kesatuan Tuhan (Ketuhanan yang Maha Esa)
Hendaklah bangsa Yahudi bertuhan dengan Tuhannya masingmasing dan
merupakan kesatuan gerak. Maka hai orang-orang atheis dan bebas agama di
kalangan bangsa Yahudi hendaklah engkau pun bertuhan dengan tuhanmu
sendiri bukankah alam pun tuhanmu dan bukankah kudrat alam pun tuhanmu
juga? Kalian berlainan agama, kalian berlainan kepercayaan, kalian
berlainan keyakinan, tetapi kalian harus bersatu dan gunung zionisme
telah menan-timu. Hendaklah kalian tenggang menenggang, hormat
menghormati hai Yahudi seluruh dunia!
2. Nasionalisme – Kebangsaan : Berbangsa satu bangsa Yahudi,
berbahasa satu bahasa Yahudi dan bertanah air satu tanah air Yahudi Raya
(Israel Raya).
3. Humanisme: Kemanusiaan yang adil dan beradab berlakulah, janganlah
kalian menjadi peniru bangsa Babilon yang telah membuangmu, tetapi bagi
luar bangsamu dan yang hendak membinasakanmu, kalian adalah bangsa
besar dan engkau pun jika keperluanmu mendesak.
Ber-lakulah Syer Talmud baginya, seperti nyanyian Qaballa berbunyi:
“Taklukanlah mereka,binasakanlah mereka akan mengambil hakmu, engkau
adalah setinggi-tinggi bangsa seumpama menara yang tinggi. Gunakanlah
hatimu ketika menghadapi sauda-ramu, karena mereka itu keturunan Yaqub,
keturunan Israel. Buanglah hatimu ketika menghadapi lawanmu karena
mereka itu bukan sekali-kali saudaramu, mereka adalah kambing-kambing
perahan dan harta mereka adalah hartamu, rumah mereka adalah rumahmu,
tanah mereka adalah tanahmu”, (Syer Talmud Qaballa XI :45).
4. Sosialisme: Keadilan sosial yang merata pada masyarakat Yahudi,
sehingga setiap orang Yahudi menjadi seorang kaya raya dan menjadi
pimpinan dimana pun ia berada, dan menjadi protokol pembuat program.
Dalam Nyanyian Qaballa Talmud dikatakan:
“Dengan uang kamu dapat kembali ke Yudea, ke Israel karena agama itu
tegak dengan uang dan agama itu uang, sesungguhnya wajah Yahwe sendiri
yang tampak olehmu itu adalah uang! Cintailah Zion, cintailah Hebran,
cintailah akan Yudea dan cintailah seluruh tanah pemukiman Israel,
karena engkaulah bangsa pemegang wasiat Hebran tertua yang berbunyi:
”Cinta pada tanah air itu sebagian dari iman!” (XL : 46).
5. Demokrasi: Dengan cahaya Talmud dan Masna dan segala ucapan
imam-imam agung bahwa telah diundangkan “Bermusyawarahlah dan berapatlah
dan berlakulah pilihan kehendak suara banyak itu karena suara banyak
adalah suara Tuhan!”
Asas Zionisme atau Khams Qanun:
1. Internasionalisme
2. Nasionalisme
3. Sosialisme
4. Monotheisme Cultural
5. Demokrasi
Asas Freemasonry dan Zionisme pada dasarnya sama, yang berbeda hanya
urutan saja. Keduanya diilhami oleh ajaran Talmud, kitab suci agama
Yahudi?
Pengaruh Doktrin Zionisme/Freemasonry terhadap Tokoh Pergerakan Dunia
Gerakan Zionisme yang diemban dengan baik oleh gerakan Freemasonry,
telah berhasil meng-garap korban-korbannya, baik di Eropa maupun di
Asia. Hal ini terbukti dengan apa yang terjadi di Perancis dan di
negara-negara Asia Tenggara. Freemasonry Perancis pada 1717 M berasaskan
Plotisma.
Istilah Plotis merupakan istilah khas mereka yang disebutkan berasal
dari dialek Yunani Koin. Plot berarti ambang atau terapung. Plotisma
adalah suatu paham untuk mengambangkan segala ajaran di luar
Freemasonry.
Jika telah mengambang disuntikkanlah paham-paham bebas dari
Freemasonry itu. Freemasonry Perancis pada 1717 M itu terpaksa
memasukkan kata-kata “Ketuhanan” dan “Triko-nitas” untuk menarik
simpatik golongan Katolik.
Lima dasar dari Freemasonry Perancis:
1. Nasionalisme
2. Sosialisme
3. Demokrasi
4. Humanisme
5. Theologi Kultural.
“Hai saudara-saudaraku dengan plotisme kita pun mendapat kunci
pembuka seribu pintu kemenangan, dengan plotisme kita mempunyai seribu
kunci etika pergaulan.” (Siasah Masuniyah muka 43).
Dalam dasar Freemasonry Italia terdapat perbedaan sedikit:
1. Nasionalisme
2. Trinitas
3. Humanitas
4. Sosialisme
5. Demokrasi.
Dalam dasar Freemasonry Palestina terdapat sedikit perbedaan pula:
1. Nasionalisme
2. Monotheisme
3. Humanisme
4. Sosialisme
5. Demokrasi
Pandit Jawarhal Nehru pernah mempunyai gagasan dasar negara India merdeka, yang dibahas di depan Indian Kongres Panc Svila:
1. Nasionalisme
2. Humanisme
3. Demokrasi
4. Religius
5. Sosialisme
Bandingkan dengan San Min Chu I dari Sun Yat Sen:
1. Mintsu
2. Min Chuan
3. Min Sheng
4. Nasionalisme, Demokrasi dan Sosialisme
Bandingkan dengan lima asas dari Muhamad Yamin, yaitu:
1. Perikebangsaan
2. Perikemanusiaan
3. Periketuhanan
4. Perikerakyatan
5. Kesejahteraan rakyat
Bandingkan dengan lima asas dari Soepomo:
1. Persatuan
2. Kekeluargaan
3. Keseimbangan lahir batin
4. MusyawarahKeadilan rakyat
Bandingkan dengan lima asas dari Soekarno:
1. Nasionalisme (Kebangsaan)
2. Internasionalisme (Kemanusiaan)
3. Demokrasi (Mufakat)
4. Sosialisme
5. Ketuhanan
Bandingkan dengan lima asas Aquinaldo, pimpinan Nasionalis Filipina.
Lima asas ini disebut asas yang lima dari gerakan Katipunan.
Sesungguhnya lima asas Katipunan ini disusun oleh Andres Bonifacio 1893
Masehi:
1. Nasionalisme
2. Demokrasi
3. Ketuhanan
4. Sosialisme
5. Humanisme Filipina
Bandingkan dengan empat asas Pridi Banoyong dari Thailand pada 1932 M:
1. Nasionalisme
2. Demokrasi
3. Sosialisme
4. Religius
Prinsip indoktrinasi Zionisme, agaknya cukup fleksibel karena mampu
beradaptasi dengan pola pikir pimpinan politik di setiap negara.
Mengenai urut-urutannya boleh saja berbeda, tetapi prinsipnya tetap
sama, mengacu kepada doktrin baku Zionisme.
(zidan)
Sumber: Panjimas.com
Buku ‘Doktrin Zionisme dan Ideologi Pancasila’ dengan sedikit penambaha