Berita Baru :
Showing posts with label #Kampus #Redaksi #Opini. Show all posts
Showing posts with label #Kampus #Redaksi #Opini. Show all posts

Pemkab Aceh Utara Lepas 580 Mahasiswa KPM STAIN Malikussaleh

Penulis : Unknown on Sunday, February 22, 2015 | 11:06 PM

Sunday, February 22, 2015

JURNALOGIKA - Pemerintah Kabupaten Aceh Utara lepas 580 mahasiswa STAIN Malikussaleh Lhokseumawe untuk mengikuti Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) senin (16/02/2015) di halaman gedung jurusan dakwah Alu Awe Lhokseumawe.

Acara Pelepasan tersebut dilakukan oleh Staf Ahli Bupati Aceh Utara Bidang Pendidikan M. Nasir. Dalam sambutan tertulis yang dibacakan oleh M. Nasir, Bupati Aceh Utara mengatakan, kehadiran Mahasiswa STAIN Malikussaleh ditengah-tengah masyarakat kabupaten Aceh Utara dapat menjadi modal dan potensi yang besar untuk pembangunan Aceh Utara. “ dalam kegiatan KPM diharapkan mahasiswa dapat mengaplikasikan ilmu sebagai dharma bakti dalam berbagai sektor dengan penuh tanggung jawab demi tercapainya cita-cita pembangunan Aceh Utara”, harapnya.

Pelepasan mahasiswa KPM yang dilakuan secara simbolis melalui pemakaian baju almamater kepada dua perwakilan mahasiswa oleh Ketua STAIN Dr. H. Hafifuddin, M. Ag dan Staf Ahli Bupati Aceh Utara M. Nasir itu berlangsung khidmat.
Drs.Mahdi Syihab
Ketua Panitia, Drs. Mahdi Syihab, MH, mengatakan mahasiwa yang KPM gelombang pertama tahun ini akan disebar dalam 60 gampong di 7 kecamatan , yakni Kecamatan Cot Girek, Baktiya , Baktiya Barat, Jambo Aye, Langkahan,  Nisam , dan Muara Dua. Mahdi berharap, mahasiswa dapat membawa pengaruh yang baik kepada masyarakat dan menjadi tolak ukur sebagai agen perubahan untuk pembangunan masyarakat yang lebh baik.

Mahdi Juga menambahkan, Kuliah Pengabdian Masyarakat itu akan dilaksanakan oleh mahasiswa selama lebih kurang 44 hari setelah sebelumnya dibekali dengan Ilmu agama dipesantren. Setiap kelompok KPM untuk masing-masin desa penempatan mahasiswa akan didampingi oleh satu orang supervisor.


Sumber: stainmal.ac.id
comments | | Baca Selanjutnya...

Kisah Dosen UIN Mem-Booking 8 PSK Dalam Satu Kamar

Penulis : Unknown on Sunday, January 18, 2015 | 8:33 PM

Sunday, January 18, 2015


Seorang Dosen UIN SGD Bandung, berusia 40 tahunan, masuk ke lokasi prostitusi di daerah Bekasi dan mem-booking 8 PSK sekaligus, lalu diboyong ke satu kamar. Sekuriti berbadan besar oknum TNI menguntitnya. Menyewa 8 orang sekaligus tentu tidak wajar dan mencurigakan. “Dia punya kekuatan seks seperti apa?” Pikirnya. Tahu ada yang menguntit, sang dosen merasa terganggu, terjadilah adu mulut antar keduanya.

Sang dosen merasa tidak ada yang salah dan memiliki alasan kuat. Karena toh sudah di-booking adalah hak dia untuk melakukan apa saja dengan 8 perempuan itu dalam kamar. Sang dosen bertanya, “Sebagai apa kamu disini?” Dia menjawab: “Saya keamanan Pak!” Mendengar jawaban itu, sontak sang dosen marah: “Keamanan apanya ..?? Pekerjaan kamu disini bukan mengamankan tapi membuat mereka tersiksa dan menderita. Kamu menjerumuskan dan mencelakakan mereka semua di dunia dan di akhirat. Keamanan apanya?”

 Sang centeng kaget oleh jawaban yang baru didengarnya itu dan tak bisa menjawab. Sekuriti itu pun disuruh pergi, dan bila tetap menganggu, ia ditantang duel:“Ayo kita satu lawan satu, mau dimana?” Tapi si oknum ini tidak berani apalagi saat diancam akan dilaporkan ke atasannya jadi centeng “neraka” seperti itu. Ia pun takut, segera pergi dan minta maaf. Di dalam kamar, ke 8 PSK itu merasakan lain. Ada hal aneh yang akan dilakukan tamunya ini mem-booking mereka banyakan.

Di dalam kamar, sang dosen meminta mereka semua duduk di atas kasur dan menyuruh seprai dari dua kasur dicabut: “Tolong cabut itu seprai dan tutup badan kalian semua dengan kain itu. Saya tidak mau melihatnya.” 8 PSK itu kemudian dinasehati panjang lebar tentang kelakuan buruknya, tentang uang haramnya, akibat kejiwaannya pada anak, durhakanya pada orang tua, alasan dustanya soal kebutuhan ekonomi, tentang bahaya penyakit kelamin dll.

“Bayangkan kalau anak perempuanmu seperti kamu, mau nggak? Kalau anak-anakmu tahu kelakuanmu seperti ini, mau nggak? Kalau ibumu tahu, mau nggak? Bayangkan perasaan mereka, betapa malu dan sakit hatinya. Inikah balasan pada ibumu yang sudah susah payah melahirkan, membesarkan dan mendidikmu? Apakah dulu ibumu membesarkanmu dengan penuh pengorbanan dan mendidikmu siang malam dengan sangat lelah dan penuh penderitaan, lalu menyekolahkanmu untuk jadi sampah seperti ini? 

Saya benar-benar heran, betapa jahatnya kamu semua pada ibumu. Kamu sangat tega mengkhianati mereka, kamu mempersetankan pengorbanan mereka. Kamu tahu nggak, saat kamu sedang melakukan pekerjaan kotor ini dan dapat uang haram, ibumu sebenarnya sedang menjerit menangis di rumah, karena hubungan batin anak dengan ibu itu kuat. Lalu agama kamu dimana? Kamu sadar enggak, sekarang ini api neraka sedang menunggu kamu semua!!”

Sekitar 2 jam dia bicara, di atas itu intinya saja. Ledakan tangisan 8 PSK itu muncrat semua. Mereka menjerit menangis, semua menyadari dan menyesali, tobat seketika, janji akan keluar semuanya . Mereka merasakan, baru ada orang yang kekuatan bicaranya seperti itu, bagai gledek halilintar yang mengoyak-ngoyak batin dan menghancurkan hati mereka semua menjadi luluh tidak berdaya. Setelah penyadaran, sang dosen meminta nomor hp mereka semua.
_______________________
Di sela-sela kisah itu, saya sering tertegun. Tentu saja, kagum. Lalu sempat menanyakan beberapa hal: “Ngapain, awalnya masuk kesitu?” Dia menjawab: “Gak tahu, saya lagi lewat, tiba-tiba saja hati saya ingin masuk ke situ, awalnya saya juga gak tahu mau apa.” Saya nanya lagi, “PSK disitu kan pasti banyak, gimana waktu memilih yang 8 orang itu, harus yang ini yang itu?” Dia bilang: “Ya gak tahu juga. Waktu itu kelihatan aja dari aura wajahnya, si ini si itu yang tersiksa kerja disitu dan ingin keluar tapi gak berdaya, gak tahu caranya. Telunjuk saya aja yang milih si ini dan si itu.”
_______________________


Beberapa hari kemudian, sang dosen, datang lagi mengecek. Benar, 8 nama itu sudah tidak ada di daftar, sudah keluar. Beberapa hari kemudian, sang dosen mengunjungi ke 8 orang itu ke kampungnya masing-masing, mengontrol dan membina, dan komunikasi terus berjalan setelah beberapa minggu dan bulan. 8 perempuan muda yang wajah-wajahnya aduhai itu, kini ada yang buka warung, buka kios, kerja di pabrik dll. 

Pada salah satu orang yang jualan gorengan, sang dosen ustadz itu berkata: “Naah … begitu doong… ini yang halal dan barokah. Rizki halal tidak susah asalkan dicari.” Mereka merasakan kebahagiaan yang sangat amat telah keluar dari jerat pekerjaaan kotornya.

Dari ke 8 PSK itu, 6 orang bersuami dan direstui oleh suaminya jadi PSK (asalnya daerahnya Subang, Indramayu, Sukabumi). Yang suaminya menerima dan sadar, suaminya juga dibina. Yang suaminya menolak dan marah karena kehilangan income dari istrinya yang cukup besar, sang dosen memberikan instruksi: 

“Kamu harus bercerai dengan suamimu, wajib, karena ia telah menjerumuskan dan merusakmu. Suami macam apa seperti itu, sekarang pun ia tidak terima kamu telah sadar. Sekarang cari suami yang baik, masih banyak. Insya Allah saya akan bantu.” Yang suaminya tidak terima, semuanya diceraikan. Satu orang yang dari Indramayu, bukan hanya tidak terima malah menteror mantan istrinya dan keluarganya.

Ketika sang dosen dilapori, tidak menunggu, ia langsung berangkat mencarinya sendiri rumah orang itu di Indramayu. Laki-laki itu kembali ke rumah orang tuanya. Sang dosen masuk dan menceramahi laki-laki itu.  

Bukannya berterima kasih dan bersyukur istrinya telah sadar dan kembali ke jalan yang benar, laki-laki itu malah tidak terima dan marah-marah. Ia bersungut-sungut menuduh laki-laki yang tak dikenalnya itu mengganggu kesenangannyalah, merusak rumah tangga oranglah, sok sucilah, dll. Sang dosen membantah: “Siapa yang merusak? Justru kamu yang merusak istri kamu dan kamu memerasnya. Suami macam apa kamu ini?”

Karena nasehat tidak akan masuk pada orang seperti ini, akhirnya sang dosen mengambil jalan akhir. “Sekarang gini aja, kamu ambil golok bawa keluar, ayo kita duel diluar tapi dengan catatan sampai mati dan harus disaksikan masyarakat, RT, RW dan Polisi. Siapa yang benar diantara kita.” 

Laki-laki itu hanya diam, sang dosen kesal, ia masuk ke dapur dan meminta golok pada keluarganya. Golok itu diberikan dan dipaksakannya agar laki-laki itu memegangnya dan dipersilahkan untuk menebas bagian mana saja dari tubuh sang sang dosen yang dia mau. Karena dia masih diam, sang dosen menggusur orang itu keluar rumah. 

Karena suasana ribut, tetangga pada keluar, nonton. Sekalian sang ustadz berteriak-teriak disitu menjelaskan betapa bodoh dan dungunya orang ini, istrinya disadarkan malah tidak terima berarti dia ini hakikatnya setan. Tetangga yang sudah menaruh curiga pada pekerjaan istri laki-laki itu membenarkan ucapan sang dosen. Mereka terus menonton.

Sampai ujungnya, laki-laki itu sadar, menangis, menyesali dan berjanji tidak akan mengganggu mantan istrinya lagi. Orang tuanya pun menyesalkan kebodohan anaknya itu.“Awas, mengganggu lagi mantan istrimu, dengan saya urusannya.”

_____________
Ketika kisah ini diceritakan pada saya, saya berkali-kali berucap: “Subhanallaah … luar biasaa …!!” Ia berkata, “Yaa … menolong itu harus tuntas, jangan setengah-setengah, cuma menyadarkan saja tapi kesananya tidak bertanggung jawab, tidak di urus, ya gak akan bener, dia bisa balik lagi nanti.” []

Kisah nyata ini diceritakan pada saya tanggal 1 Juli 2012. Namanya sengaja tidak disebut untuk menghindari riya. Subhanallaah …

sumber: www.kanapress.com 
comments | | Baca Selanjutnya...

Melacak Syi'ah di Aceh

Penulis : Unknown on Saturday, January 17, 2015 | 7:32 AM

Saturday, January 17, 2015

Kaum Syiah India memperingati hari Asyura
Sore tadi saya menghadiri diskusi yang mengangkat tema “Melacak Jejak Syiah di Aceh”. Dalam diskusi tersebut, beberapa pemateri memaparkan fakta-fakta sejarah yang mengindikasikan keberadaan ajaran Syiah di Aceh.
Status ini sempat tertunda karena saya harus menghadiri majelis pembacaan maulid Diba’i karya Al Muhaddist Syekh Abdurrahman Ad Diba’i yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan Syiah. Tidak terhitung jumlah kitab Maulid. Dr. Shalahuddin Al Munjid menyenarai 181 buah kitab maulid dalam kitabnya. kesemuanya tidak ada kaitannya dengan Syiah.
Berdasarkan fakta sejarah, dipercaya bahwa Syiah lah yang pertama kali masuk ke Aceh. Di Peureulak ditemukan batu nisan Raja Peureulak pertama, Sultan Abdul Aziz Syah. Beliau adalah anak dari Muhammad bin Ja’far Shadiq (guru dari Abu Hanifah yang mengembangkan mazhab Hanafi) bin Muhammad Al Bagir bin Ali Zainal Abidin bin Sayydina Husein. Beliau adalah keturunan Rasulullah SAW. yang garis silsilahnya masih sangat dekat.
Selain bukti-bukti material berupa batu nisan yang berukir dengan syair-syair Persia, pemateri dalam diskusi ini juga melihat beberapa tradisi masyarakat Aceh seperti Khanuri Hasan Husen dan perayaan Hari Assyura serta syair tentang dua cucu mulia Rasulullah ini yang dipopulerkan oleh Rafli dalam lagunya dan beberapa contoh lainnya yang dijabarkan secara panjang lebar sebagai bukti peninggalan Syiah di Aceh.
Bisa dibilang, berbagai bentuk tradisi dan bukti-bukti yang menggambarkan bentuk kecintaan terhadap Ahlul Bait Rasulullah dengan mudah dicap berbau Syiah. Hanya Syiah lah yang mencintai Ahlul Bait, lain tidak. Padahal mencintai keluarga Rasulullah adalah perintah agama, sebagaimana firman Allah dalam Surat Al Ahzab ayat 23: “Katakanlah Wahai Muhammad, aku tidak meminta suatu balasan apapun kecuali mencintai Keluarga (Rasulullah). Juga beberapa hadist: ” ”Demi Allah, iman tidak akan masuk ke dalam hati seorang muslim sehingga ia mencintai kalian (keluarga Rasulullah), karena Allah dan karena hubungan keluarga denganku.” (HR. Ahmad), “Cintailah Allah karena nikmat-nikmat yang telah dianugrahkan-Nya dan cintailah aku karena kecintaanmu kepada Allah serta cintailah Ahlul Baitku karena kecintaanmu kepadaku”. (HR. At Thabrani), serta sejumlah hadist lainnya.
Maka tidak heran apabila Muslim, khususnya Ahlussunnah yang berpegang pada tradisi para Shalafusshaleh (bukan salafi) memiliki keterikatan yang kuat dengan Ahlul Bait dan melukiskan bentuk kecintaannya dengan berbagai cara.
Seorang pemateri mengutip kata-kata Imam Syafii yang diambilnya dari buku karya Prof. Abubakar Atjeh yang kira-kira berbunyi: “Jika karena kecintaanku terhadap Ahlul Bait Rasulullah aku disebut Syiah, maka aku adalah Rafidhah.” Kata-kata ini diucapkan oleh Imam Syafii ketika ia dibawa bersama sejumlah orang yang dituduh Syiah dari Yaman ke Baghdad untuk dieksekusi diepan Khalifah Bani Abbasyiah. Aceh secara mutlak bermazhab Syafii, jadi tidak heran jika kecintaan Imam Syafii ikut menular ke seluruh masyarakat Aceh.
Rafidhah yang dimaksudkan oleh Imam Syafii dalam kalamnya tersebut merujuk kepada golongan Syiah yang dianggap melenceng (termasuk Syiah Imamiyah). Kata ini muncul setelah Imam Zaid bin Ali Zainal Abidin dibai’at oleh penduduk Kufah, tepatnya ketika usai berperang dengan Gubernur Irak. Pengikut Imam berkata: ” Kami akan terus berperang bersamamu setelah engkau katakan pendapatmu tentang Abubakar dan Umar yang telah berbuat zalim terhadap kakekmu (Ali bin Abi Thalib). Imam Zaid berkata: “Sungguh aku tidak akan mengatakan kepadanya keduanya selain kebaikan, karena aku tidak pernah mendengar dari ayahku tentang keduanya selain kebaikan.” Setelah mendengar pendapat tersebut, pengikut Imam Zaid meninggalkannya. Hingga terbesit kata dari Imam Zaid, “Rafadhtumuni” (kalian meninggalkanku). Sejak saat itu mereka disebut Rafidhah. Dari peristiwa tersebut juga berkembang istilah “Aghdaru min kufiyyin” (lebih khianat dari orang Kufah), ditambah pengkhianatan sebelumnya terhadap Imam Hasan dan Husein.
Selain berkembang anggapan bahwa seolah hanya Syiah yang cinta Ahlul Bait, juga muncul asumsi bahwa hanya Syiah mengikuti ajaran para Imam dari Ahlul Bait rasulullah. Jika dilihat dari sanad ilmu seluruh Thariqah Mu’tabarah, kesemuanya tidak terlepas mata rantai keilmuannya dengan Imam Ja’far Shadiq. Keseluruhan pendiri thariqah-thariqah ini (yang mayoritasnya Ahlul Bait Rasulullah) serta murid-muridnya hingga sekarang jelas Ahlussunnah wal Jamaah. Bahkan Abu Hanifah pendiri mazhab Hanafi adalah murid dari Imam Ja’far.
Kelompok Ahlul Bait rasulullah yang paling banyak kita temui di Nusantara adalah Bani ‘Alawi, berasal dari hadramaut, Yaman. Mereka berasal dari keturunan Ahmad bin Isa Al Muhajir (Naquib/pemimpin kabilah Ahlul Bait pada masa itu) yang memilih hijrah ke Hadramaut. Mereka bermazhab Syafii. Dari kelompok inilah muncul Thariqah ‘Alawiyah yang sangat dikenal di Nusantara. Di Aceh kita mengenal Thariqah Hadaddiyah yang dibawa oleh Tgk. Chik Hasan Krueng Kalee. Thariqah ini merupakan cabang dari Thariqah ‘Alawiyah yang bersumber dari Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad.
Mereka juga yang banyak membawa pengaruh terhadap corak ajaran Islam di Nusantara. Banyak syair-syair karangan Ulama dari Bani ‘Alawi yang mencantumkan nama-nama Imam seperti Imam Muhammad Al Bagir dan Imam Ja’far Shadiq, dll. Apakah mereka Syiah? jelas tidak. Salah seorang Ulama masyhur dari Bani ‘Alawi, Habib Ali bin Abubakar As Sakran menjelaskan hadist tentang 73 golongan Islam dan yang selamat adalah Ahlussunnah wal Jamaah, dalam kitabnya Bughatul Mustarsyidin. Yang terbagi kedalam firqah-firqah: Syi’ah 22 aliran, Khawarij 20 aliran, Mu’tazilah 20 aliran, Murjiah 5 aliran, Najariah 3 aliran, Jabariah 1 aliran, Musyabbihah 1 aliran. Kitab ini dikarang tanpa tendensi bahwa ini upaya dari Amerika Serikat seperti yang diungkapkan salah satu peserta diskusi. Bahkan Amerika saja belum terbentuk pada saat itu.
Bahkan yang berbau Persia pun tidak bisa diklaim secara mutlak Syiah. Beberapa hal perlu dilihat sebelum secara gampang mengambil kesimpulan. Al Ghazali, Fariduddin Atttar, dan masih banyak lagi Ulama-ulama Islam yang hidup di wilayah Iran dan Transoxiana yang jelas Ahlussunnah.Maka anggapan bahwa mencintai dan menunjukkan kecintaan terhadap Rasulullah identik dengan Syiah adalah salah besar. Mengatakan bahwa yang berkaitan dengan Ahlul Bait Rasulullah langsung divonis berbau Syiah juga terbantahkan. Maka dalam menganalisa pengaruh syiah di Aceh khususnya tidak sesimpel dengan dua indikasi itu saja.
Wallahu’alam.(
)
comments | | Baca Selanjutnya...

KIPP Tarbiyah Tetapkan 2 Cagub/Cawagub

Penulis : Unknown on Saturday, January 10, 2015 | 9:58 AM

Saturday, January 10, 2015


JURNALOGIKA - Setelah berakhirnya masa pendaftaran untuk Calon Gubernur/wakil gubernur HMJ Jurusan Tarbiyah,panitia PEMIRA/KIPP Tarbiyah kini resmi telah menetapkan 2 Cagub/Cawagub berdasarkan pertimbangan pada hasil rapat kemarin sore, Jum'at sore (9/1).
Dua Pasangan CAGUB/CAWAGUB yang dinyatakan layak untuk berpartisipasi dalam PEMIRA tahun ini adalah Zulfirman/Gunawan pada nomor urut 1 dan Mahzar/Fakhrurreza pada nomor  2. Kedua pasangan ini merupakan kader HMI cabang Kota Lhokseumawe & Aceh Utara.

Menurut penuturan Ketua KIPP, Taufik Syarbaini. Kedua pasangan ini merupakan mahasiswa yang sangat berpengaruh dan sama-sama mempunyai kualitas yang luar biasa di jurusan tarbiyah, maka tak pelak jika keduanya masuk dalam kriteria dan lulus berdasarkan syarat-syarat yang telah ditentukan KIPP.

Taufik Syarbaini juga mengajak seluruh mahasiswa Tarbiyah untukmendukung PEMIRA yang akan digelar pada 15 Januari nanti di Gedung Tarbiyah. "Saya selaku Ketua Panitia mengajak seluruh mahasiswa untuk ikut serta memilih pada tanggal tersebut, untuk menentukan kualitas gubernur yang akan memimpin tarbiyah kedepannya" Ungkapnya.

Pihak mahasiswa pun berharap, PEMIRA kali ini bisa berjalan lancar tanpa ada gangguan apapun,

"semoga PEMIRA kali ini gak ribut-ribut dan gak ada kecurangan seperti yang terjadi pada MUSMA HMJ Tarbiyah" Ungkap seorang Mahasiswa Tarbiyah yang tidak mau disebut namanya.

Kekisruhan yang terjadi pada MUSMA HMJ Tarbiyah adalah kasus pemalsuan tanda tangan peserta sidang oleh oknum-oknum yang tujuannya belum bisa diindetifikasi hingga saat ini. (RR)

 

comments | | Baca Selanjutnya...

OPINI - Hikmah Rosnida

Penulis : Unknown on Friday, January 9, 2015 | 1:10 AM

Friday, January 9, 2015

Kegiatan mahasiswa yang belajar kesetaraan gender di Gereja Banda Aceh pada beberapa waktu, kegiatan ini di mobilisasi oleh Rosnida Sari, Dosen UIN Ar-Raniry.
JURNALOGIKA - ACEH selalu menjadi mainstream pemberitaan. Saat ini, aras syariat Islam-lah yang menuai banyak sorotan. Berita terkini adalah tuduhan pendangkalan akidah oleh Rosnida Sari, seorang dosen UIN Ar-Raniry, Banda Aceh. Menuliskan ini saya juga was-was, dan berpotensi dituduh aneh-aneh. Tetapi saya putuskan untuk menulis karena saya yakin ada pesan Rasulullah yang perlu kita tinjau ulang dengan kepala yang dingin dan hujjah yang relevan.
Sebagai orang yang beriman, dilema Rosnida ini jelas bukan sebuah kebetulan sejarah. Firman Allah (QS. Al-Baqarah: 26) menyebutkan bahwa Allah tidak menciptakan apa pun di dunia ini, termasuk peristiwa-peristiwa yang terkait dengan hajat hidup manusia, dengan sia-sia. Tidak ada yang kebetulan dalam hidup ini, melainkan semua ada dalam skenario Allah, tertulis di Lauh Mahfudh jauh sebelum kehidupan ini Allah ciptakan.
Dilema Rosnida juga muncul dalam frame yang kurang kondusif di saat public sedang hangat-hangatnya mendiskusikan larangan penolakan perayaan Natal dan Tahun Baru. Dalam kacamata sosiologi-politik, dilema-Rosnida harus dilihat dalam frame lain yang lebih luas. Peristiwa ini muncul di saat semangat puritanisme Islam di Aceh bangkit, setelah hampir 14 tahun bergulat melaksanakan syariat Islam.
Profil pendidikan Rosnida Sari, gelar luar negeri yang membuatnya plural?

Muncul di saat spirit puritanisme itu menjalar tanpa idea dan mazhab yang legitimate, di saat penerapan Islam memasuki ruang perdebatan dan kepentingan antaraliran. Sehingga muncul tarik-tarik menarik, misalnya tentang siapa yang lebih berwenang memberi warna pada kegiatan di Masjid Raya Baiturrahman, tempat sakral yang menjadi simbol pemegang otoritas agama di Aceh.
Lebih jauh, munculnya sinyalemen-sinyalemen untuk membersihkan Baiturrahman dari acara-acara non-ibadah, tidak boleh ada penyelenggaraan akad nikah, zikir hanya boleh dilakukan oleh kelompok jamaah tertentu, bahkan status Tarawih kompromistik antara 8 dan 12 rakaat akan ditinjau ulang. Demikianlah tarik menarik pengaruh itu terjadi disaat agama telah memasuki ruang kekuasaan.
Satu hal yang kita tidak boleh lupakan, dilema Rosnida muncul di bulan Rabiul Awal, bulan kelahiran Nabi Muhammad saw. Bukan kebetulan ini terjadi di bulan Maulid, tetapi memang Allah punya tujuan agar kita bisa mengambil hikmah dari peristiwa ini, misalnya dalam menemukan kembali makna toleransi agama, persaudaraan, dan otoritas aqidah seorang hamba Allah, seraya berharap dilema Rosnida menjadi Hikmah Rosnida.
Adalah fakta bahwa Rosnida telah membawa mahasiswanya untuk belajar di gereja. Adalah fakta bahwa Rosnida memiliki kehidupan pribadi yang tidak sesuai dengan standar yang berlaku umum dalam masyarakat muslim di Aceh seperti tentang jilbab-nya atau kedekatannya dengan hewan yang dianggap najis. Namun apakah fakta-fakta itu cukup menjadi alasan untuk menuduhnya kafir? Bekerja untuk kafir? Beberapa statemen dan SMS yang beredar malah mengarah pada ancaman dan kekerasan fisik.
Mari bersandar pada akhlak Muhammad saw. Nabi Muhammad diutus ke bumi untuk menyempurnakan akhlak kita. Innamaa bu’istu li utammima makaarimal akhlaq (Sesungguhnya aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia). Kata innamaa merupakan ‘adatul hasyr yang berarti “hanya”. Bahwa peristiwa ini sudah terjadi adalah fakta, tetapi dengan akhlak seperti apa kita menyikapinya? Apakah dengan akhlak Muhammad saw?
Nabi Muhammad saw itu sosok yang santun, selalu tersenyum, tidak pernah berteriak-teriak, konon lagi memaki-maki orang lain. Muhammad itu adalah arhamunnaas, manusia yang paling pengasih dan penyayang, hatta terhadap orang kafir atau yahudi yang berniat melukainya, konon lagi terhadap sahabat yang tersilap. Muhammad datang untuk seluruh umat manusia, tidak hanya untuk umat Islam, tetapi untuk seluruh ras.
Muhammad hadir untuk melahirkan komunitas yang santun. Hanya kesantunan, kesabaran, kerahiman, yang akan membuat hati mereka luluh dan tunduk pada Islam. Islam tidak mengajarkan kebencian dan sakit hati, karena rasa benci, tidak hanya menjauhkan orang-orang kafir dari Islam, bahkan bisa membuat umat Islam sendiri merasa tidak nyaman dalam cara ber-Islam yang sedang dipraktekkan komunitasnya.   
Mungkin Rosnida telah tersilap, membawa mahasiswa ke gereja tanpa prosedur izin lembaga tempat dia mengajar, maka ini menjadi wilayah administrasi yang bersangkutan. Mungkin Rosnida tersilap karena berperilaku yang tidak selaras dengan cara orang-orang Islam-Aceh berperilaku secara tipikal. Tetapi apakah cukup alasan untuk menuduhnya kafir, missionaris, dan berbagai tuduhan lainnya?
Biarlah status kafir, musyrik, akan masuk surga atau neraka, menjadi otoritas Allah Swt. Itu bukan urusan manusia, seperti fiman Allah (QS. Ali Imran: 128-129; An-Nisaa: 49; Al-An’am 56). Hanya Allah yang mengganjar setiap amalan ibadah kita dan hanya Allah yang berhak memutuskan kita ahli surga atau ahli neraka.
Kita tentu harus fair dalam memetakan mana wilayah Allah, dan mana yang wilayah manusia. Kita juga harus adil dalam melihat mana yang terbukti masalah kesyirikan dan masalah kepribadian, yang notabene menjadi urusan Rosnida dengan Allah sebagaimana firmanNya: Walaa yajrimannakum syana-aanun qaumin ‘alaa alla ta’dilu, janganlah kebencianmu pada suatu kaum membuatmu lantas tidak berlaku adil. (QS. Al-Maidah: 8).
Ribuan postingan di media sosial menggempur tindakan Rosnida

Rosnida adalah saudara kita. Laa yuhibbu ahadukum hatta yuhibba li akhiihi ma yuhibbu linafsih, tidak beriman diantara kamu hingga kamu menyayangi saudaramu seperti kamu menyayangi dirimu sendiri (Shahih Bukhari-Muslim). Mari dalam kesilapan itu, kita rangkul Rosnida. Temukan nur Muhammad dalam peristiwa ini. Sadar atau tidak, dia telah mengorbankan dirinya untuk menjadi martir bagi Aceh yang sedang bergulat menemukan spirit puritanisme Islam yang lebih humanis. Wallaahu ‘alam. 
Oleh Fajran Zain, Alumni Madrasah Ulumul Quran, Langsa. School of International Politics and Strategic Studies Australian National University, Canberra, Australia.
(email: fjzain@yahoo.com)

http://aceh.tribunnews.com/
comments | | Baca Selanjutnya...

OPINI - Bahasa Aceh Di Ambang Kritis


Tulisan*
Tulisan ini diilhami dari poster yang sebagai bentuk tugas ujian akhir mata kuliah Psikologi Lintas Budaya. Tugas yang diberikan berhubungan dengan budaya dan manusianya, ini membuat otak kami mulai belajar berfikir. Setelah berfikir keras akhirnya kelompok kami memutuskan mengambil Tema "Identitas Budaya". Awalnya pilihan ini agak sedikit membingunghkan, karena unsur-unsur dalam identitas budaya itu sangat banyak, hingga akhirnya dengan keyakinan kuat kami mulai membuat suatu poster yang berhubungan dengan bahasa daerah. 

Sebagaimana kita ketahui, bahasa daerah adalah satu bagian dari identitas budaya, setiap daerah/suku di nusantara ini selayaknya pasti memiliki bahasa daerahnya masing-masing. Bahasa daerah dianggap sebagai wujud penunjukan jati diri suatu komunitas masyarakat tersebut. Bahasa daerah adalah identitas wujud kearifan lokal dari suatu wilayah adat. Di era zaman modern seperti sekarang ini, bahasa Daerah sudah mulai terkikisnya bahasa daerah dari interaksi verbal anak muda yang semena-mena dipengaruhi Globalisasi, sebab itu Pemuda-pemudi sekarang akan merasa tidak modern dan ketinggalan zaman menggunakan bahasa daerah. Bahkan salutnya adalah adanya Pemuda-pemudi yang memang tidak bisa sedikitpun bahasa daerahnya selain beberapa kosakata yang sering diucapkan orang-orang disekitarnya. Permasalahan inilah yang akhirnya jua menjadi fokus kami sehingga berani menuangkan opini ini dalam poster sebagai hasil dari interpretasi dari pikiran kami.


Aceh sebagai salah satu wilayah yang memiliki beragam budaya, bahasa, adat istiadat dan tradisi lainnya. Aceh adalah salah satu wilayah dihuni oleh berbagai suku-suku yang menyebar diseluruh Tanoh Aceh, suku Aceh, Gayo, Tamiang, Alas, Aneuk Jamee, Kluet, dan lain-lain yang memiliki dialek dan struktur bahasa masing-masing. Dalam pemakaian Bahasa Aceh saja, kita akan mendapat banyak sekali perbedaan antara satu lingkup kabupaten dengan kabupaten lainnya walaupun masih dalam satu Aceh.

Antara kabupaten Aceh Utara dan Kabupaten Pidie akan ada perbedaannya dalam segi tutur dan dialek. Begitupun dengan yang lainnya. Bahkan, antara satu kampung dengan kampung lain akan ada perbedaan walaupun sama dalam satu kabupaten. Artinya adalah, begitu banyaknya budaya dan bahasa yang kita milikim, sehingga patutlah kita berbangga dengan perbedaan tersebut.

Namun, yang disayangkan adalah kesadaran Aneuk Nanggroe ini dalam menggunakan bahasa daerahnya masing-masing. Kalau diperhatikan arus perubahan penggunaan bahasa daerah akan sengat kentara di daerah perkotaan sedangkan di daerah pedalaman muda - mudinya belum sepenuhnya mulai meninggalkan Bahasa Aceh, yang kita amati sekarang kebanyakannya, adalah Muda mudi diperkotaan secara lingkungan mungkin karena kehidupan keluarga dan lingkungannya yang tidak mengenalkan bahasa daerah dengan baik, tidak ada modelling dalam keluarganya yang layak jadi tempat meniru yang akan membentuk kepribadiannya.


Lantas, apakah tidak boleh belajar bahasa orang lain dan berkomunikasi menggunakan bahasa orang lain? jawabannya ia boleh-boleh saja asal tidak melupakan bahasa daerahnya masing-masing. Toh, Bahasa indonesia misalnya bila dikatakan sebagai bahasa persatuan maka pergunakan ketika suatu kondisi yang memang mengharuskan kita menggunakannya, bagaimanapun bahasa yang di ada Aceh adalah sebagai wujud identitas budaya masyarakat Aceh. Kemana pun kita melangkah sudah patutnya membawa jadi diri kita sebagai pertanda kita tidak sama dengan orang-orang lain, bila tidak maka bahasa-bahasa yang berada di aceh di ambang kepunahan dan akan menjadi bahasa kuno seperti halnya bahasa sansakerta.


* Isvani, Mahasiswa Aceh Utara, Pemerhati sosial dan lingkungan
Mahasiswa Fakultas Hukum Unsyiah

Tulisan ini dikutip dari Blog rekan kami http://suaatjeh.blogspot.com/

comments | | Baca Selanjutnya...

Tiga Wakil STAIN Malikussaleh Dilantik

Penulis : Unknown on Monday, January 5, 2015 | 11:40 PM

Monday, January 5, 2015

 Ketiga Wakil ketua STAIN Malikussaleh yang diambil Sumpah dalam pelantikan kemarin.(5/1).(foto: M.Fazil)
KETUA Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri atau STAIN Malikussaleh Lhokseumawe, Dr. H. Hafifuddin, M.Ag melantik tiga wakil ketua sekolah tersebut, Senin kemarin, 5 Januari 2015. 

Pelantikan dilakukan di Aula Kampus STAIN Malikussaleh Kecamatan Muara Dua Lhokseumawe, sekitar pukul 09.30 Wib. Ketiga Wakil Ketua STAIN yang baru dilantik tersebut adalah Dr Syahrizal, M.Ag sebagai Wakil Ketua I menggantikan M Nazar M.Hum, Darmadi, M.Si sebagai Wakil Ketua II mengggantikan Munawar Khalil MA, dan Bastiar, SHi., MA sebagai Wakil Ketua III.

Pelantikan itu dihadiri ketua jurusan, ketua prodi, kabag, dosen, dan mahasiswa.
Pada kesempatan itu. Dr. Hafifuddin sempat menyerahkan piagam penghargaan kepada Bapak M Nazar dan Bapak Munawar Khalil atas pengabdiannya selama ini.


Dr. H. Hafifuddin, M.Ag, atau yang akrab dipanggil "Ustaz Hafiz" dalam sambutannya mengatakan masih banyak yang harus dilakukan untuk membangun kampus tersebut. “Maka dalam hal ini sangat penting kekompakan dalam mambangun atau meningkatkan kemajuan kampus untuk ke depan"

"Saya tidak suka jika di kalangan kita ini menjadi atau terbentuknya kelompok-kelompok sehingga berbagai hal perencanaan kita akan menjadi terhambat,” katanya tambahnya. 

Dia juga meminta agar seluruh pihak di STAIN Malikussaleh menjaga kekompakan antar sesama dan tidak ada yang saling menyalahkan atau menjelekkan.
comments | | Baca Selanjutnya...

Cegah Harga Barang Tak Terkendali, Pemerintah Diminta Segera Umumkan Kenaikan Harga BBM

Penulis : Unknown on Monday, November 17, 2014 | 7:13 AM

Monday, November 17, 2014







Jurnalogika - Rektor Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Denpasar Prof Sri Darma berharap pemerintah segera mengumumkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Pasalnya, rencana itu memicu naiknya harga barang dan kebutuhan bahan pokok masyarakat.
"Untuk mengantisipasi hal itu, pemerintah harus segera mengumumkan naiknya harga BBM agar harga berbagai barang di pasaran bisa dikendalikan," kata Sri Darma di Denpasar, Minggu (16/11/2014), seperti dikutip Antara.
Sri Darma mengatakan, naiknya sejumlah harga barang sebelum keluarnya pengumuman resmi kenaikan harga BBM oleh pemerintah merupakan hal yang wajar. Psikologi pasar terpengaruh akan isu kenaikan harga BBM.
Dalam kondisi demikian, pelaku bisnis akan melakukan penyesuaian harga berbagai jenis barang yang dijualnya.
Selain itu, kata dia, ada juga spekulan yang mencoba peruntungan dengan memanfaatkan jeda waktu sebelum harga baru BBM diberlakukan dengan menaikan berbagai harga barang di pasaran.
Ia menambahkan, untuk mengantisipasi hal tersebut, pengumuman harga BBM baru harus segera dilakukan agar tidak terjadi pergerakan harga yang tidak terkendali. Dengan demikian, diharapkan pelaku usaha memiliki kepastian untuk menyesuaikan besaran kenaikan berbagai biaya produksi yang berpengaruh terhadap kenaikan harga jual.

Rencana kenaikan harga BBM, menurut Sri Darma, merupakan dilema bagi pemerintah. Jika harga BBM tidak naik, maka akan membebani APBN dan jika dinaikan pemerintah memang akan mendapat dana segar untuk pembagunan dari pengurangan subsidi BBM.

Namun, penyesuai harga BBM tersebut membuat sebagian rakyat akan menjerit. Semua hal itu mesti diantisipasi oleh pemerintahan baru Presiden Jokowi dengan program "kartu saktinya" sehingga rakyat kecil tidak makin terhimpit.

Denga naiknya harga BBM subsidi, Sri Darma berharap pembangunan akan lebih tepat sasaran dan lebih pesat lagi.

Sebelumnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan bahwa kenaikan harga BBM akan diumumkan setelah Jokowi kembali ke Tanah Air dari lawatan ke luar negeri.


Menurut JK, jumlah kenaikan nanti akan dikalkulasi berdasarkan harga minyak dunia yang turun menjadi sekitar 80 dollar AS dan melemahnya rupiah.


Tujuan pemerintah menaikkan harga BBM adalah mengalihkan subsidi ke konsumtif menjadi produktif, seperti pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan.(Dikutip Teuku Reza)

Kompas.com
comments | | Baca Selanjutnya...

Hamzah Fansuri, Jasadnya Satu... Makamnya di Mana-mana

Penulis : Unknown on Friday, October 17, 2014 | 9:53 PM

Friday, October 17, 2014


Sudah empat abad lalu dia pergi, tapi namanya masih tetap harum hingga kini. Selain disebut sebagai penyair pertama Indonesia oleh A. Teeuw, Hamzah Fansuri juga meninggalkan ajaran sufisme yang tersebar ke berbagai daerah. Lantaran ajaran sufismenya yang berkiblat ke tarekat wahdatul wujud itulah, perjalanan hidup Hamzah juga cukup berliku. Maka seperti kisah hidupnya yang 'kontroversial', kematiannya pun dibumbui kontroversi yang tak kalah serunya.
Itulah sebabnya, jika ditanya di manakah gerangan makam Hamzah Fansuri, maka ada beberapa pendapat yang menyertainya. Yang pertama akan berkata, makamnya terletak di Desa Oboh, Kecamatan Runding, Kota Subulussalam, sekitar 14 kilometer dari Kota Subulussalam, Aceh Selatan yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Sidikalang, Sumatera Utara, atau sekitar tujuh jam perjalanan darat dari Medan.
Makam satunya lagi berada di Desa Ujung Pancu, Kecamatan Pekan Bada, Kabupaten Aceh Besar. Namun menurut cerita yang diturunkan dari generasi ke generasi, Syaikh Hamzah Al Fansuri pernah tinggal di kedua tempat itu dan meninggalnya pun di klaim berada di kedua tempat itu pula. Makam lainnya, konon berada di Langkawi, Malaysia. Pendapat terakhir mengatakan, makam Hamzah Fansuri berada di Makkah.
Namun, dari berbagai pendapat mengenai letak makam sang Syekh yang mashur itu, konon yang patut dipercaya adalah yang berada di Desa Oboh yang juga terkenal dengan sebutan makam Mbah Oboh. Karena, meski sama-sama tak memiliki bukti kuat berupa catatan sejarah, namun dari kisah 'orang-orang dulu', makam di Desa Oboh kiranya yang lebih diakui oleh pemerintah, dengan bukti pemberian anugerah kebudayaan. 
Penyair dan ahli tasawuf Aceh abad ke 17 tersebut, Selasa (13/8/2013) lalu mendapat anugerah Bintang Budaya Parama Dharma, yang diserahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam acara penganugerahan Bintang Maha Putera, dan Tanda Jasa di Istana Negara.
Selain itu, menurut juru kunci sebelumnya, Abdullah (66), nenek moyangnya yang dulu juga juru kunci di makam tersebut tidak banyak mengetahui perihal riwayat Mbah Oboh. Selain dikenal sebagai ahli fikih dan suluk dari Barus dan pernah bekerja di Istana Kerajaan Aceh, Abdullah dan warga sekitar makam hanya mengetahui satu kisah legenda tentang Mbah Oboh.
”Mengapa memilih dikubur di sini, karena saat beliau menanam padi sekaleng, panennya pun sekaleng. Saat di Kutaraja (sekarang Banda Aceh), menanam padi sekaleng, panennya ratusan kaleng. Beliau berkesimpulan, di sinilah tanah kejujuran,” kata dia.
Makamnya di Desa Oboh hanya berbentuk gundukan tanah bertabur kerikil dan dikungkung kain putih yang sebagian terlihat kusam karena terkena tanah liat. Kain putih itu dipadu kain hijau berisi kaligrafi tulisan asma Allah. Gundukan tanah tadi adalah makam Syekh Hamzah
Fansuri, salah satu ulama legendaris Aceh.
Makam itu terawat rapi dalam bangunan kecil. Sebuah sungai mengalir tak jauh dari sisi kiri makam. Di tempat itu, tak hanya Syekh Hamzah Fansuri yang dimakamkan. Di sekitarnya ada tiga makam lagi, yakni sahabat dan mertua Fansuri. Suasana tenang terasa di tempat ini. Sesekali angin menyeruak dari sela barisan pohon sawit di sekeliling makam.
"Saya nggak tahu kalau makam Syekh Hamzah Fansuri juga ada di sini. Soalnya waktu ke Langkawi, Malaysia, di sana juga ada," ujar Wakil
Gubernur Aceh Muzakir Manaf saat berdiri di samping makam, beberapa waktu lalu.
***
Hamzah nin asalnya Fansury
Mendapat wujud di tanah Shahrnawi
Beroleh khilafat ilmu yang ‘ali
Dari abad ‘Abd al-Qadir Jilani

Hamzah di negeri Melayu
Tempatnya kapur di dalam kayu
Asalnya manikam tiadakan layu
Dengan ilmu dunia di manakan payu

Hamzah Fansury di dalam Mekkah
Mencapai Tuhan di Baitul Ka’bah
Dari Barus terlayu payah
Akhirnya dijumpa di dalam rumah

Hamzah miskin orang uryani
Seperti Ismail menjadi Qurbani
Bukan Ajami lagi Arabi
Senantiasa wasil dengan yang baqi
Inilah syair yang menjadi petunjuk tentang sosok Hamzah Fansuri. Bait-bait syair di atas menjelaskan siapa dan dari mana Hamzah Fansuri berasal. Pada bait pertama nampak nyata, Hamzah berasal dari sekitar Aceh, yang terdapat padanya Fansur (Aceh Selatan), Tanah Shahrnawi (Perlak), negeri Melayu (Pasai-Malaka), Barus (Sumatra Utara).
Ia yang hidup dan berpengaruh pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636), merupakan tokoh utama yang mengangkat bahasa Melayu dari bahasa lingua-fransca, menjadi bahasa ilmu dan sastra. Peneliti dari Malaysia, Prof Dr. Naguib Alatas dalam bukunya “The Mysticcism of Hamzah Fansuri” menyebut Hamzah Fansyuri sebagai Pujangga Melayu terbesar dalam abad XVII, penyair Sufi yang tidak ada taranya pada zaman itu.
Karya-karya Hamzah Fansyuri antara lain “Syair Perahu, Syair Burung Pingai” dan lain-lain. “Syair Perahu” berisi petuah tetang kehidupan agar tetap memelihara amal kebaikan.
Dalam buku "Hamzah Fansuri Penyair Aceh", Prof. A. Hasymi menyebut Hamzah Fansuri hidup sampai akhir pemerintahan Sultan Iskandar Muda.
Tetapi, pada tulisan lainnya dalam Ruba’i Hamzah Fansuri disebutkan, “Hanya yang sudah pasti, bahwa beliau hidup dalam masa pemerintahan Sultan Alaidin Riayat Syah IV Saiyidil Mukammil (997-1011 H-1589-1604 M) sampai ke permulaan pemerintahan Sultan Iskandar Muda Darma Wangsa Mahkota Alam (1016-1045 H-1607-1636 M).”
Kapan Syeikh Hamzah Fansuri lahir secara tepat belum dapat dipastikan. Adapun tempat kelahirannya di Barus atau Fansur sebagaimana ditulis oleh Prof. A. Hasymi, Fansur itu satu kampung yang terletak antara Kota Singkil dengan Gosong Telaga (Aceh Selatan).
Dalam zaman Kerajaan Aceh Darussalam, kampung Fansur itu terkenal sebagai pusat pendidikan Islam di bagian Aceh Selatan. Pendapat lain menyebut beliau dilahirkan di Syahrun Nawi atau Ayuthia di Siam dan berhijrah serta menetap di Barus.
Karya-karya Syeikh Hamzah Fansuri baik yang berbentuk syair maupun berbentuk prosa banyak menarik perhatian para sarjana, termasuk Prof. Syed Muhammad Naquib yang menulis desertasinya tentang tokoh sufi ini dengan judul "The Misticim of Hamzah Fansuri", 1966 dan diterbitkan Universitas of Malaya Press 1970.
Ada juga Prof. A. Teeuw juga r.O Winstedt yang menyebut Syeikh Hamzah Fansuri mempunyai semangat yang luar biasa yang tidak terdapat pada orang lain. Bahkan, J. Doorenbos dan Syed Muhammad Naquib al-Attas mempelajari biografi Syeikh Hamzah Fansuri secara mendalam
untuk mendapatkan Ph.D masing-masing di Universitas Leiden dan Universitas London.
***
Konon, Hamzah Fansuri jualah yang menjadi salah satu musabab yang membawa nama Aceh menjadi Serambi Mekah. Hamzah Fansuri As-Singkili tercatat dalam lintasan sejarah peradaban Aceh. Dia merupakan salah seorang sufi sekaligus sastrawan terkemuka yang tiada taranya dalam menulis karya-karya monumental kesusasteraan Melayu. Buku-bukunya sering disebut dalam manuskrip kuno “Sejarah Melayu” seperti “Durrul Manzum” (Benang Mutiara) dan “Al-Saiful Qati” (Pedang Tajam).
Dengan syair-syairnya yang berunsur sufistik telah memberi pengaruh luar biasa bagi cendekiawan Melayu untuk membina dan mengembangkan bahasa Melayu menjadi bahasa seni budaya, bahasa ilmu pengetahuan, bahkan bahasa antarabangsa dunia Timur.
Syair-syair Hamzah Fansuri merupakan karangan mistik Islam. Tulisannya menguraikan tasawuf klasik secara eksplisit dan signifikan, dikemas dalam bahasa Melayu seperti “Asrarul Arifin Fi Bayani Ilmis Suluk wat-Tauhid”, "Syaraabul Asyiqin”, dan “Al-Muntahi”.
Betapa banyak pembendaharaan kosa kata Melayu yang dibuatnya, selain melakukan pembaharuan di bidang logika dan mantik yang bertalian dengan pemikiran dalam masalah bahasa.
Keberhasilan Hamzah Fansuri dengan syair-syairnya yang bernuansa agama tak terlepas dari latar belakangnya sebagai seorang sufi yang telah mengelana mencari ma’rifat hingga ke Kudus, Banten, Siam, Semenanjung Melayu, India, Persia, dan Tanah Arab. Berbagai buku tasawuf dari sufi-sufi terkemuka dengan mudah ia kuasai karena kemahirannya dalam berbahasa Melayu, Urdu, Persia, dan Arab. 
Dan tak sedikit pula sajak-sajak para sufi terkemuka Persia seperti Ibnu Arabi, Al-Hallaj, Jalaluddin Rumi, Al-Bustami, Maghribi, Nikmatullah, Abdullah Talil, Abdul Qadir Jailani, Iraqi, Sa’di, dan lain-lain itu ia kutip dalam bahasa aslinya, lalu ia bubuhi syarah/­terjemahannya dalam bahasa Melayu. Namun kapasitas syair-syair yang dihasilkannya menunjukkan bahwa dirinya sangat terpengaruh dan terilhami oleh Ibnu Arabi, tokoh aliran wujudiyyah.
Kedudukan Hamzah Fansuri begitu penting, karena dia lah penyair pertama yang menulis bentuk syair dalam bahasa Melayu empat abad silam. Sumbangan besarnya bagi bahasa Melayu adalah asas awal yang dipancangkannya­ terhadap peranan bahasa Melayu sebagai bahasa keempat di dunia Islam sesudah bahasa Arab, Persia, dan Turki Utsmani.
Hamzah Fansuri banyak mendapat asupan ilmu di Zawiyah/Dayah Blang Pria Samudera/Pasai, Pusat Pendidikan Tinggi Islam yang dipimpin oleh Ulama Besar dari Persia, Syekh Al-Fansuri, nenek moyangnya Hamzah. Kemudian Hamzah Fansuri mendirikan Pusat Pendidikan Islam di pantai Barat Tanah Aceh, yaitu Dayah Oboh di Simpang kiri Rundeng, Aceh Singkil. Kedalaman ilmu yang dimiliki telah mengangkatnya ke tempat kedudukan tinggi dalam dunia sastra Nusantara. Oleh Prof Dr Naguib Al-Attas ia disebut “Jalaluddin Rumi”nya Kepulauan Nusantara, yang tidak terbawa oleh arus roda zaman.
Layaknya Penyair sufi, sajak-sajak Hamzah Fansuri penuh dengan rindu-dendam, luapan emosi cinta kepada kekasihnya, Al-Khaliq, Allah Yang Maha Esa. Rindunya dengan sang Khaliq menjadikannya sebagai Insan Kamil yang tiada lagi pembatas antara dia dan Khaliqnya, karena jiwa telah menyatu ke dalam diri kekasih yang dirindukannya, seperti makna implisit dalam hadits Qudsi riwayat Thabrani:
”Hambaku selalu menghampiriKu dengan ibadah-ibadah yang sunat sehingga Aku cinta kepadanya. Bila demikian, Aku menjadi pendengarannya yang dipergunakannya­ untuk mendengar, pemandangannya yang dipergunakan untuk memandang, lisannya untuk berbicara dan hatinya untuk berpikir.”
Oleh karena itu dalam karya tulis Hamzah Fansuri seakan-akan mendengar dengan telinga Khaliq nya, memandang dengan mata Khaliq nya, berbicara dengan lisan Khaliq nya. Tentu saja hal ini sangat sukar dimengerti dan dipahami oleh orang yang tidak banyak membaca dan
mendalami buah pikiran dan filsafat Ulama Tasawuf atau penyair sufi.
Cakrawalanya yang sejauh ufuk langit telah menghangatkan syair-syair padat dan berisi penuh dengan butir-butir filsafat, tetapi menawan hati untuk menguak makna yang terkandung.
Di antara karyanya yang ekstentik itu adalah "Syair Burung Perahu", "Syair Burung Pingai", "Syair Burung Unggas", "Syair Perahu" dan "Bismilllahir Rahmanir Rahim". Menurut A. Hasjmy, meskipun ia menganut filsafat Tuhan (Wahdatul Wujud), ia menolak faham hulul, faham keleburan selebur-leburnya dengan Tuhan:
Aho segala kita umat Rasuli
Tuntut ilmu hakikat al-wusul
Karena ilmu itu pada Allah qabul
I’tiqad jangan ittihad dan hulul.

Perhatikan juga bahasa yang terdapat dalam petikan 'Syair Perahu'nya ini:

Inilah gerangan suatu madah
Mengarangkan syair terlalu indah
Membetuli jalan tempat berpindah
Di sanalah i'tikad diperbetuli sudah

Wahai muda kenali dirimu
Ialah perahu tamsil tubuhmu
Tiadalah berapa lama hidupmu
Ke akhirat jua kekal diammu

Hai muda arif budiman
Hasilkan kemudi dengan pedoman
Alat perahumu jua kerjakan
Itulah jalan membetuli insan
Dengan penggunaan bahasa yang indah dan dengan perumpamaan yang sederhana, Syair Perahu ini pada suatu masa menjadi sebutan orang ramai. Ia digunakan oleh ibu bapa untuk menasihati anaknya agar mentaati ajaran Islam.
Dalam Ensiklopedi Umum (1973) mengatakan Hamzah Fansuri adalah seorang penyair dan ahli tasawuf yang berasal dari Barus, Sumatera.
Aliran Hamzah Fansuri dalam ilmu tasawuf sangat terpengaruh sehingga ke Tanah Jawa. Hamzah Fansuri banyak terkesan dengan karya-karya serta ketokohan Ibnu Arabi, Al-Hallaj, Al-Djunaid dan Jajaludin ar-Rumi kerana nama-nama ini ada disebut dalam kebanyakkan karya
Tasawwufnya.
Aliran Hamzah Fansuri terkenal dengan teori Wahdatul Wujud di mana fahaman ini sangat ditentang oleh Nuruddin Ar-Raniri. Antara bentuk karangannya yang sangat terkenal adalah Syair Perahu, Syair Burung Pungai, Syair Dagang dan lain-lain (Hasan Shadily 1973: 321).
Mengenai tarikh lahir Hamzah Fansuri hingga kini masih diperdebatkan. Ooi Keat Gin (2004) dalam ensklopedianya menyatakan bahwa beliau lahir pada pertengahan abad ke-16 saat kepimpinan serta kesultanan Sultan Alaudin Riayat Shah Ibn Firman Shah (1589-1604) (Ooi Keat Gin. 2004: 560). Drewes dan Brakel (1986) pun berpendapat bahwa Hamzah hidup hingga zaman kesultanan Iskandar Muda (Mahkota Alam) yaitu antara tahun 1607 hingga 1636 masehi. 
Berdasarkan penelitian dan kajian jelas mengatakan bahawa beliau meninggal dunia antara sebelum atau pada tahun 1590 masihi (Drewes dan Brakel 1986:3). Manakala Naquib Al-Attas dalam membicarakan mengenai tahun kelahiran Hamzah Fansuri, beliau membawakan beberapa bait syair Hamzah Fansuri yang boleh dijadikan justifikasi kepada isu ini:
Sjah ‘Alam Radja jang adil
Radja Qoetoeb jang sampoerna kami
Wali Allah sampoerna wasil
Radja arif lagi mukammil
Bertambah daulat Sjah

Bertambah daulat Sjah ‘Alam
Makota pada sekalian Alam
Karoenia ilahi Rabb al-‘alamina
Menjadi radja kedoe alam.
Dari keterangan dan bukti yang dikemukakan sarjana-sarjana di atas maka besar kemungkinan Hamzah Fansuri hidup semasa Sultan ‘Ala al-Din Riayat Syah (1589-1602) atau pada akhir abad ke-16 sampai abad ke-17 dan diperkirakan Hamzah Fansuri meninggal dunia sebelum atau pada 1016/1607 sesuai dengan bukti-bukti yang dikemukan oleh Naquib al-Attas (Naguib al-Attas 1970:70). Lebih tepat lagi A. Hasmy dalam kertas kerjanya mengatakan bahawa pada akhir pemerintahan Sulthan Iskandar Muda Meukuta Alam (wafat 29 Rajab 1046 H = 27 Desember 1636 M.), Syekh Hamzah Fansuri meninggal dunia di Wilayah Singkel, dekat kota kecil Rundeng. Beliau dimakamkan di Kampung Oboh Simpang Kiri Rundeng di Hulu Sungai Singkel. (A. Hasmy 1984:11).
Tentang tempat kelahiran Hamzah Fansuri, kebanyakkan sarjana sepakat beliau berasal dari Fansur yang bersempena dengan nama di belakangnya yaitu Fansuri. Fansur adalah sebuah pelabuhan Pantai Barat di Utara Sumatera antara Singkil dan sibolga. Orang luar menengarai tempat ini sebagai Fansur tetapi lebih tepatnya Barus dalam bahasa setempat (Ooi Keat Gin. 2004: 561). Sementara, jika mengacu dari karya Naguib al-Attas (1970:5-8), mengatakan bahwa Hamzah pernah menulis dalam syairnya yang menerangkan dirinya lahir di Shahr Nawi (Shah r-i-Nawi) atau Ayutthaya, Thailand. Tetapi disanggah Drewes dan Brakel (1986) yang mengatakan ini hanya teori dan kemungkinan Hamzah Fansuri telah menjelajah atau bermusafir sehingga ke Ayutthaya dan menuntut ilmu bersama orang Parsi di sana (Drewes dan Brakel 1986:5).
Maklumlah, Hamzah Fansuri semasa hidupnya sangat suka menjelajah atau bermusafir ke seluruh Nusantara dan Tanah Arab, antara lain: Pahang, Ayttuhaya, Mughal India, Mekah, Madinah dan juga Baghdad. Ilmu wahdatul wujud yang diserap Hamzah, menurut beberapa ahli terpengaruh oleh pandangan Ibnu Arabi yang berasal dari Sepanyol, ketika Hamzah menjelajah ke Mughal India dan juga Parsi sekitar abad ke-16. Ketika mengajarkan doktrin wahdatul wujud, Fansuri berada di Aceh di akhir abad ke-16. Aceh sendiri kala itu merupakan pusat kekuasaan, politik, dan ketentaraan serta pusat Islam yang pesat menggantikan Malaka yang ketika itu ditawan oleh Portugis pada 1511.
Hamzah Fansuri banyak dikritik oleh Nuruddin al-Raniri (1658). Nuruddin mengatakan bahwa Hamzah dan Syamsuddin Sumatrani yang mengajarkan wahdatul wujud adalah sesat dan bertentangan dengan apa yang difahami oleh dirinya. Ini adalah karena di India, wahdatul
wujud sangat ditentang oleh ahli aqidah di India dan situasi yang sama dibawa ke Aceh dengan mempengaruhi Sultanah Taj al-Alam Safatudin Shah (1641-1675) untuk membakar dan mengharamkan nama Hamzah Fansuri dan karyanya. Oleh karena itu, nama dan peranan
Hamzah Fansuri banyak tidak kelihatan dalam karya Indonesia sebagaimana dengan Hikayat Acheh (Ooi Keat Gin. 2004: 561-562).
Menurut Abdul Hadi, Hamzah Fansuri merupakan penyair yang tersohor di tanah Melayu abad ke-16 yang menjadi buah mulut kalangan sarjana di Nusantara. Hamzah Fansuri merupakan intelektual dan ahli sufi yang terkemuka dan dianggap perintis dalam pelbagai bidang keilmuan. Hamzah merintis tradisi baru dalam penulisan sastra Melayu-Indonesia, khususnya di bidang penulisan sastra yang bercorak Islam di abad ke 16 dan ke 17 (2001: 117). Dia merupakan "Bapak Sastera Melayu" dan orang yang pertama menulis dalam bahasa Melayu tentang banyak aspek tasawuf (Muhammad Bukhari: 123).
Hingga kini, dari berbagai penelitian, belum ditemukan syair yang mendahului syair Hamzah Fansuri (Voorhoeve: 278). Mengikut Syed Naguib al-Attas, syair Hamzah Fansuri terawal yang masih wujud dianggap berasal dari seorang ahli mistik Sumatera abad ke-16 (lihat Siti Hawa Haji Saleh: 123). Hamzah Fansuri juga disebut sebagai seorang muslim yang sangat bertakwa, yang disanjungnya ialah khalik yang mencipta alam semesta dan menentukan takdir-Nya (Muhammad Naquib al-Attas, 1970: 322). Dia juga seorang ahli tasawuf, zahid dan mistik yang mencari penyatuan dengan khalik dan menemuinya di jalan isyk (cinta) (V.I Braginsky, 1994: 15)

Catatan Kaki Jodhi Yudono @JodhiY

Atjehcyber.net
comments | | Baca Selanjutnya...

Jurnalogika Team

dakwah.stainmal.ac.id

Blogroll

Iklan

Comments
Comments
 
Design Template by Teuku Reza Rizki | Support by creating website | Powered by Said Arif Tirtana