Berita Baru :
Showing posts with label #Politik. Show all posts
Showing posts with label #Politik. Show all posts

OPINI - Menyimak Kemunafikan Politik Birokrasi Di Aceh

Penulis : Unknown on Thursday, February 12, 2015 | 2:33 AM

Thursday, February 12, 2015

Oleh : Usman Cut Raja.(wartawan jurnalatjeh.com)
Gubernur Aceh, Zaini Abdullah sudah beberapa kali melakukan perombakan dan pergantian pajabat di lingkungan Pemerintah Aceh. Dalam setiap pelantikan, Gubernur kerap mengatakan, mutasi pejabat adalah bentuk penyegaran organisasi dalam meningkatkan kinerja roda pemerintahan, serta peningkatan pelayanan kepada masyarakat Aceh.
Pergantian yang dilakukan sama sekali tidak mengandung unsur hukuman, tidak ada pula unsur kebencian. Yang ada hanyalah penyegaran dengan tujuan untuk menciptakan perubahan ke arah yang lebih baik.Langkah pergeseran atau tour of duty sebagai momentum untuk evaluasi.
Yang harus dipahami, kata Gubernur, jabatan yang diemban ini bukanlah  hadiah, bukan hak, dan bukan pula kepemilikan. Jabatan ini adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan di kemudian hari. Amanah dan jujur merupakan tonggak menuju keberhasilan.
Pernyataan yang disampaikan Gubernur ini sangat jelas dan tegas dan kita yakin tidak ada pejabat yang berani ingkar. Cuma dalam pengalaman selama ini, kita sudah sulit menemukan pejabat yang berani mengatakan yang sebenarnya kepada atasannnya. Kebanyakan mareka,
hanya ingin bagaimana agar disenangi atasan, meskipun dengan cara memunafikan kebenaran sekalipun.
Kita masih menyangsikan sikap amanah dan jujur dikalangan pejabat pejabat yang kini ditempatkan. Diantara kesangsian kita dan masih bertanya tanya, misalnya, mampukan mareka melakukan pemerataan kesejahteraan kepada masyarakat, keadilan dan tidak ada lagi korupsi, kolusi dan nepotisme.
Namun apapun ceritanya, kita masih menaruh percaya kepada Zaini Abdullah karena dalam penempatan pejabat di era reformasi birokrasi sekarang ini amatlah penting, karena bagaimanapun seorang pemimpin haruslah didampingi oleh orang-orang yang sejalan dengannya.
Kita juga masih menaruh percaya penempatan pejabat yang dilakukan benar benar didasarkan kepada profesionalisme, kompetensi, bakat, kemampuan dan keahlian pejabat yang bersangkutan dalam bidang dimana ia ditempatkan, bukan didasarkan atas dasar suka tidak suka.
Jika seorang pemimpin menempatkan seseorang hanya didasarkan atas kepentingan pribadi atau golongan tertentu saja, maka bagi yang kurang kuat pendiriannya, mudah  melakukan pekerjaan munafik. Makin lama, makin banyak munafiknya, karena sudah terbiasa. Malahan berbuat munafik sudah dianggap biasa.
Karena sudah terbiasa, melakukan pekerjaan munafik, begitu memegang kunci penentu (decesion maker atau determinator), sudah terlatih. Nalurinya sudah peka bagaimana mengibuli rakyat. Inderanya begitu tajam mana yang bisa dimunafikkan.
Mengutip Evendhy M.Siregar dalam bukunya, Profesionalisme Birokrasi dapat disimpulkan, dizaman reformasi yang kebablasan sekarang ini, tidak sedikit kita jumpai orang-orang yang takut kehilangan status social (jabatan)nya.
Sekarang ini, banyak kita jumpai, khususnya pejabat tidak berani mengeluarkan pendapat, memberikan saran dan masukan kepada pimpinan apalagi dalam bentuk kritik. Jika sikap diam dan pura-pura tidak tahu, cuek atau masa bodoh yang berkembang, maka sadar atau tidak telah mengajar kita selalu mengalah dan mengorbankan hati nurani.
Yang lebih buruk lagi, para pejabat cendrungan untuk menipu dirinya sendiri sehingga tidak lagi mengenal dirinya sendiri. Pejabat yang demikiian, dikhawatirkan akan terus bertambah sementara pejabat yang berani bertanya, berani memberikan saran atau masukan kepada pimpinan karena memegang prinsip mempunyai resiko, tidak akan mendapat jabatan.
Evendhy M.Siregar, dalam tulisan lainnya mensitir ungkapan seorang politikus amatiran yang mengatakan “ Bung harus belajar menyesuaikan diri. Kita harus luwes bergaul, supaya hidup kita selamat dan karier bisa menanjak. Tidaklah salah, sedikit-sedikit munafik. Supaya kita jangan lain dari yang lain. Nanti orang akan muak melihat kita, karena dikira sok alim.
Timbulnya fenomena seperti di atas apakah merupakan imbas dari penerapan Otonomi Daerah, yang memberikan kewenangan penuh kepada Pemerintah Kabupaten/Kota untuk mengurus dan mengatur rumah tangganya sendiri.  Setuju atau tidak, dalam kenyataannya dengan deberlakukannya otonomi daerah sejak tahun 1999 lalu, telah membawa dampak positif terhadap kondisi sosio politik diberbagai daerah termasuk di Aceh
Dapat terlihat, sistem pemerintahan di Aceh berkembangnya sistem pemerintahan yang sentralistik dengan tradisi local dan hubungan patron-klien yang masih terus berlangsung diantara birokrat. Praktek sehari-hari  memberikan gambaran mengenai seberapa jauh teknik-teknik sentralistik dan hirarkis yang lama masih terjadi dalam pemerintahan di Aceh.
Misalnya dalam proses pengambilan kebijakan sehari-hari, kebanyakan pejabat seniorlah yang menentukan banyak hal. Semakin senior seorang birokrat, semakin dia yang menentukan keputusan. Dengan begitu, bisa dikatakan bahwa prosedur-prosedur administrasi dan pemerintahan didominasi oleh elit-elit local.
Melihat kepada lokalitas Aceh yang memiliki ruang, identitas dan perwatakan tersendiri hingga memiliki dinamika tersendiri yang tidak dapat dicampur adukkan dan digeneralisir. Kekhasan dinamis yang dimiliki Aceh menyimpan banyak persamaan pola, kepentingan dan
sejenisnya.
Mungkin disinilah peran Gubernur Aceh, Zaini Abdullah untuk melihat kekhasan dan perwatakan local yang dinamis tersebut, problem lokalitas dapat diselesaikan dengan menggunakan pengetahuan-pengetahuan local yang tumbuh dan berkembang di lingkungan masyarakat di dalamnya.
Disinilah barangkali nantinya aspek lokalitas menjadi sesuatu yang penting dalam pengelolaan dinamika politik di Aceh.
Karenanya pula sebagai eksponen penyelenggaraan pemerintahan di Aceh, para pejabat daerah dituntut untuk berperan aktif dalam mengelola dinamika politik secara pro aktif, sesuai dengan situasi dan kondisi setempat. Pengelolaan dinamika politik ini seyogyanya mengacu pada bekerjanya institusi-institusi setempat.
Kaitan dengan hal ini, pejabat pemerintah yang bermaksud untuk ambil bagian dalam mengelola dinamika masyarakat dituntut untuk faham terhadap pasang surutnya dinamika tersebut. Namun terkadang, karena keterbatasan pengetahuan mereka tentang arti dan pemahaman politik lokal membuat mereka jadi seenaknya saja melakukan politik busuk.
Dalam politik busuk semua hal dipolitisir dengan mengemukakan alasan-alasan yang dibuat sendiri, tanpa mengindahkan norma-norma politik itu sendiri, tidak jarang mereka selalu mencari dan mengemukakan kata-kata pembenar yang justru sebenarnya tidak benar.
Akibatnya konotasi politik itu sendiri menjadi amburadul dan berkonotasi negatif dalam pandangan masyarakat.
Keadaan semacam ini banyak terjadi dalam Birokrasi Pemerintahan di Aceh, Kepala Daerah seolah menjadi raja kecil di daerah kekuasaannya, berbuat dan bertindak dengan kebijakan yang dibuatnya sendiri dengan alasan dan argumentasi yang dibuat sendiri tanpa mempertimbangkan atau berpijak pada ketentuan dan rambu rambu hukum yang berlaku.
Lebih parah lagi kedudukan pegawai sesuai dengan tingkat kemampuan/kualitas pegawai, sesuai dengan profesionalisme atau tingkat kompetensi yang dimiliki, tidak terpakai. Yang ditempatkan justru orang-orang yang dianggap telah berjasa memenangkannya, orang orang
yang dekat dengan keluarganya atau orang-orang yang memiliki kemampuan cari muka dihadapannya.
Sudah menjadi tradisi di birokrasi pemerintahan di Aceh, baik tingkat provinsi maupun di kabupaten/kota, bila Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah telah berganti, maka para Kepala SKPD dan pejabat lainnya sudah mulai tidak tenang dalam bekerja, karena sudah pasti tsunami mutasi akan menimpa mereka.
Kita dapat melihat di hampir semua daerah di Aceh, begitu Kepala Daerah/Wakil Kepala Daerah dilantik, tidak lama kemudian, para SKPD dan Camat digusur dan dicopot dari jabatannya bahkan, tanpa melalui proses hukum yang jelas, dan terkadang amat menyakitkan.
Yang menyedihkan lagi adalah para pejabat yang dicopot itu tidak lagi mendapat jabatan alias Non Job. Kita sangat sayangkan tindakan dari sang penguasa Kepala Daerah seperti ini, sebab bukti riel memperlihatkan bahwa dintara beberapa pejabat atau camat yang dicopot
dan di non jobkan itu, terdapat beberapa yang berprestasi misalnya dengan meraih sebagai Pejabat Teladan.
Disinilah terkadang para Kepala Daerah lupa kepada ucapannya yang selalu bertindak adil, dan akan menempatkan pejabat sesuai dengan kompetensi dan profesionalisme yang dimiliki
masing-masing, bahkan ketika telah melakukan mutasipun ia sempat mengatakan bahwa dalam mutasi telah dilakukan sesuai dengan kompetensi dan profesionalisme masing-masing.
Kita bisa melihat, para lulusan APDN sebagai camat karena memang para alumni APDN disiapkan untuk itu, tapi kenyataannya, banyak camat yang di non jobkan dan menempatkan camat dari pegawai yang berpendidikan diluar Alumni APDN, STPDN, IIP dan IPDN. Padahal alumni tersebut merupakan pendidikan kedinasan Kementerian Dalam Negeri yang segala biaya pendidikannya ditanggung oleh Negara.
Makanya jangan heran bila istilah Non Job sekarang telah menjadi momok yang mengerikan bagi pejabat di Aceh. Apakah ini yang dinamakan profesionalisme. Pemimpin semacam inilah yang memang harus ada di Aceh sekarang ini.  Wallahua’lambisawab.[].

sumber : jurnalaceh.com
comments | | Baca Selanjutnya...

Mahasiswa Gajah Putih Kecewa dengan Sikap Gubernur Zaini

Penulis : Unknown on Saturday, January 17, 2015 | 7:50 AM

Saturday, January 17, 2015

Zaini Abdullah
JURNALOGIKA - MAHASISWA Universitas Gajah Putih (UGP) Takengon menyayangkan sikap Gubernur Aceh, Zaini Abdullah, yang ngotot mengusulkan anggaran sebesar Rp 200 miliar lebih untuk Badan Usaha Milik Aceh (BUMA). Apalagi dana ini sudah diwacanakan akan dialihkan untuk kepentingan publik seperti subsidi iuran listrik untuk masyarakat miskin di Aceh oleh DPRA. "Kami sangat kecewa atas sikap Gubernur Aceh yang lebih mengutamakan anggaran itu untuk kepentingan kerabatnya. 

Padahal di Aceh masih banyak sarana dan prasarana pelayanan publik yang harus dioptimalkan, apalagi pasca musibah banjir dan longsor kemarin," ujar Presma UGP, Raunal Mahfudh kepada ATJEHPOST.co via telepon seluler, Sabtu, 17 Januari 2015.

 Rahmat menilai sikap dan komitmen Gubernur Aceh untuk tetap mengusulkan anggaran untuk BUMA, telah mencerminkan sikap tidak adanya rasa prihatin dan bertanggung jawab terhadap rakyat Aceh. Padahal selama ini masyarakat Aceh telah banyak menaruh harapan kepada Gubernur Zaini dalam menjalankan segala amanahnya terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat. 

"Seharusnya Gubernur selaku pemegang kewenangan harus peka serta lebih memfokuskan kepentingan publik. Apalagi usulan DPRA yang ingin mengalihkan anggaran tersebut untuk pembangunan jalan tembus, subsidi listrik bagi rakyat miskin serta pembangunan irigasi patut diapresiasi. Oleh karena itu, saya berharap kepada DPRA haruslah cepat-cepat bertindak tegas dengan mengedepankan komitmen terhadap kepentingan publik," ujarnya. (Atjehpost.co)
comments | | Baca Selanjutnya...

Mendikbud anggap Berdoa di Sekolah Pemaksaan Agama, Astaghfirullah !

Penulis : Unknown on Wednesday, December 10, 2014 | 9:29 PM

Wednesday, December 10, 2014


Anies Baswedan menyebut masalah doa di sekolah menimbulkan masalah.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan mengatakan kementeriannya sedang mengevaluasi proses belajar mengajar yang selama ini berlangsung di sekolah-sekolah negeri. Salah satu yang sedang dievaluasi terkait dengan tata cara membuka dan menutup proses belajar.
"Saat ini kita sedang menyusun, tatib soal aktivitas ini, bagaimana memulai dan menutup sekolah, termasuk soal doa yang memang menimbulkan masalah. Ini sedang direview dengan biro hukum," ujar Anies dalam jumpa pers di kantornya, Gedung Kemendikbud, Jalan Jend Sudirman, Jakarta, Senin (1/12/2014).
Di Twitter, Yusuf Mansur langsung bereaksi atas rencana Menteri Pendidikan tersebut. Yusuf Mansur pun langsung mengajukan protes dengan menghubungi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan.
Yusuf Mansur menyatakan kegeramannya jika memang kebijakan tersebut dilakukan pemerintah. Ia mempertanyakan mengapa pemerintah seolah semakin alergi saja dengan Islam dan simbol-simbol agama Islam.
"Ampun, ampun yaaa Allah. ampunin kami. bukannya bela agama-Mu. malah jd begini," ujarnya.
"Selama ini, toleransi dah jalan dg sangat damai. yaaa Allah, jahat dan bodoh banget sih mereka2 ini. apalagi kalo ia adalah muslim jg".
"Saya dulu diem. dan ngebela siapapun yg memerintah. tapi kalo sampe nyentuh udah urusan kayak doa di awal pg di sekolah2, males banget diem," tegasnya.

Sebelumnya, Anies mengatakan hal itu menjawab pertanyaan tentang adanya keluhan sejumlah orangtua murid terhadap tata cara "dominan agama" tertentu dalam proses belajar mengajar. Hal itu membuat siswa penganut agama lain menjadi tidak nyaman.
"Sekolah di Indonesia mempromosikan anak-anak taat menjalankan agama, tapi bukan melaksanakan praktik satu agama saja," tuturnya.
Menurut Anies, sekolah negeri bukanlah tempat untuk mempromosikan keyakinan agama tertentu. Sesuai dengan asas pemerintah menjamin kemerdekaan beragama di Indonesia, sekolah seharusnya memberikan kesetaraan bagi penganut agama lainnya.
"Sekolah negeri menjadi sekolah yang mempromosikan sikap berketuhanan yang Maha Esa, bukan satu agama," tutup Anies. (*dtk/rol)
comments | | Baca Selanjutnya...

Menko Polhuham Sebut Masyarakat Demo BBM 'Lebay'

Penulis : Unknown on Wednesday, November 19, 2014 | 8:35 PM

Wednesday, November 19, 2014

Menko Polhuham Sebut Masyarakat Demo BBM 'Lebay'
kompas.com
Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, Tedjo Edy Purdjianto ..

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan, Tedjo Edy Purdjianto, menyebut masyarakat yang heboh atas kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), terlalu berlebihan. Dia mengistilahkan dengan kata-kata yang biasa disebutkan anak muda, "lebay".
"Berapa pun dinaikkan, masyarakat itu masih mampu kok. Buktinya, kita lihat masih macet kan di jalan? Yang antre itu masyarakat latah, hanya untuk satu-dua liter saja, antre, 'lebay' kalau kata anak muda sekarang," ujar Tedjo di kantornya, dilansir Kompas.com, Rabu (19/11/2014).
Sama seperti masyarakat mengantre, istilah "lebay" juga dilontarkannya kepada sejumlah elemen masyarakat yang melakukan unjuk rasa menolak kenaikan harga BBM. Menurut Tedjo, kenaikan harga BBM adalah wajar karena demi penghematan anggaran. Toh, anggaran penghematan akan dialihkan ke sejumlah program pro-rakyat. "Dari dulu juga begitu kan kalau demo? Itu karena memang ada orang yang hobinya demo, paling sebentar lagi selesai," ucapnya.
Sejauh ini, Tedjo memastikan bahwa aksi unjuk rasa yang digelar sejumlah elemen masyarakat di Indonesia belum mengancam keamanan negara. Pihaknya juga tak melihat ke arah sana. Aksi unjuk rasa di sejumlah daerah itu disebutnya hanya ekspresi semata saja.
Tedjo meminta masyarakat umum tak terlalu khawatir unjuk rasa penolakan kenaikan harga BBM meluas. Apalagi, lanjut Tedjo, Polri telah menetapkan status keamanan Siaga I di Indonesia. Menurutnya, status keamanan itu hanya bentuk kesiapan Polri saja dalam menanggapi suatu situasi. "Siaga I itu kan hanya siap digerakkan saja. Kalau Siaga III bisa di rumah, kalau Siaga II di kantor, kalau Siaga I siap berangkat, itu saja," kata dia.
Diberitakan, pasca-pengumuman kenaikan harga BBM oleh Presiden Jokowi, Senin (17/11/2014), sejumlah elemen masyarakat di penjuru Indonesia berunjuk rasa. Mereka menentang kebijakan Jokowi tersebut. Di Makassar, Sulawesi Selatan, mahasiswa yang melakukan unjuk rasa bahkan sempat bentrok dengan Polri. (Dikutip Oleh T.Reza Rizki)
comments | | Baca Selanjutnya...

Cegah Harga Barang Tak Terkendali, Pemerintah Diminta Segera Umumkan Kenaikan Harga BBM

Penulis : Unknown on Monday, November 17, 2014 | 7:13 AM

Monday, November 17, 2014







Jurnalogika - Rektor Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Denpasar Prof Sri Darma berharap pemerintah segera mengumumkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Pasalnya, rencana itu memicu naiknya harga barang dan kebutuhan bahan pokok masyarakat.
"Untuk mengantisipasi hal itu, pemerintah harus segera mengumumkan naiknya harga BBM agar harga berbagai barang di pasaran bisa dikendalikan," kata Sri Darma di Denpasar, Minggu (16/11/2014), seperti dikutip Antara.
Sri Darma mengatakan, naiknya sejumlah harga barang sebelum keluarnya pengumuman resmi kenaikan harga BBM oleh pemerintah merupakan hal yang wajar. Psikologi pasar terpengaruh akan isu kenaikan harga BBM.
Dalam kondisi demikian, pelaku bisnis akan melakukan penyesuaian harga berbagai jenis barang yang dijualnya.
Selain itu, kata dia, ada juga spekulan yang mencoba peruntungan dengan memanfaatkan jeda waktu sebelum harga baru BBM diberlakukan dengan menaikan berbagai harga barang di pasaran.
Ia menambahkan, untuk mengantisipasi hal tersebut, pengumuman harga BBM baru harus segera dilakukan agar tidak terjadi pergerakan harga yang tidak terkendali. Dengan demikian, diharapkan pelaku usaha memiliki kepastian untuk menyesuaikan besaran kenaikan berbagai biaya produksi yang berpengaruh terhadap kenaikan harga jual.

Rencana kenaikan harga BBM, menurut Sri Darma, merupakan dilema bagi pemerintah. Jika harga BBM tidak naik, maka akan membebani APBN dan jika dinaikan pemerintah memang akan mendapat dana segar untuk pembagunan dari pengurangan subsidi BBM.

Namun, penyesuai harga BBM tersebut membuat sebagian rakyat akan menjerit. Semua hal itu mesti diantisipasi oleh pemerintahan baru Presiden Jokowi dengan program "kartu saktinya" sehingga rakyat kecil tidak makin terhimpit.

Denga naiknya harga BBM subsidi, Sri Darma berharap pembangunan akan lebih tepat sasaran dan lebih pesat lagi.

Sebelumnya, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan bahwa kenaikan harga BBM akan diumumkan setelah Jokowi kembali ke Tanah Air dari lawatan ke luar negeri.


Menurut JK, jumlah kenaikan nanti akan dikalkulasi berdasarkan harga minyak dunia yang turun menjadi sekitar 80 dollar AS dan melemahnya rupiah.


Tujuan pemerintah menaikkan harga BBM adalah mengalihkan subsidi ke konsumtif menjadi produktif, seperti pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan.(Dikutip Teuku Reza)

Kompas.com
comments | | Baca Selanjutnya...

Haji Uma Sesalkan Penangkapan Koordinator Demo PT. Arun

Penulis : Unknown on Thursday, October 30, 2014 | 7:31 AM

Thursday, October 30, 2014




SENATOR DPD RI asal Aceh, Sudirman atau yang akrab disapa Haji Uma, menyayangkan sikap pihak kepolisian yang menangkap koordinator demo masyarakat terhadap PT. Arun, Tri Juanda, Senin 27 Oktober 2014.

“Bek lagee nyanlah. Dia hanya memimpin masyarakat untuk menuntut hak. Seharusnya polisi bisa lebih arif,” kata Haji Uma kepada Atjehpost.co, Kamis malam 30 Oktober 2014.

Masyarakat, kata Haji Uma, hanya menuntut haknya yang selama ini diabaikan oleh pemerintah serta PT. Arun.

“Rakyat jangan dikorbankan. Jangan dialihkan isu tuntutan masyarakat dengan penangkapan,” ujar Haji Uma.

Kasus penangkapan koordinator demo PT. Arun menjadi preseden buruk dalam iklim demokrasi.
“Padahal rakyat tidak tuntut banyak. Mereka hanya ingin haknya yang bertahun-tahun hilang, tapi kok ditangkap,” katanya lagi.

Haji Uma meminta pihak kepolisian untuk mempertimbangkan kemungkinan supaya Tri Juanda dibebaskan.

“Ada cara-cara yang lebih arif untuk meminta warga tidak anarkis. Ada cara-cara yang baik, bukan dengan penangkapan,” ujarnya.

Penyidik Satuan Reserse Kriminal Polres Lhokseumawe hingga usai siang tadi masih menahan Tri Juanda, 23 tahun, koordinator demo (unjuk rasa) masyarakat eks Blang Lancang dan Rancong.



 

Tri Juanda yang juga aktivis HMI yang juga Mahasiswa STAIN MALIKUSSALEH ditangkap saat pendemo merusak pagar kompleks perumahan PT Arun di Batuphat, Muara Satu, Lhokseumawe, 27 Oktober 2014. Unjuk rasa itu untuk menuntut pemerintah dan PT Pertamina merealisasikan resettlement (pemukiman baru) untuk 542 KK warga eks Blang Lancang dan Rancong, Lhokseumawe, yang digusur ketika pembangunan Kilang LNG Arun tahun 1974.



Sumber : Atjehpost.com

jhSENATOR DPD RI asal Aceh, Sudirman atau yang akrab disapa Haji Uma, menyayangkan sikap pihak kepolisian yang menangkap koordinator demo masyarakat terhadap PT. Arun, Tri Juanda, Senin 27 Oktober 2014. 
“Bek lagee nyanlah. Dia hanya memimpin masyarakat untuk menuntut hak. Seharusnya polisi bisa lebih arif,” kata Haji Uma kepada Atjehpost.co, Kamis malam 30 Oktober 2014.
Masyarakat, kata Haji Uma, hanya menuntut haknya yang selama ini diabaikan oleh pemerintah serta PT. Arun.
“Rakyat jangan dikorbankan. Jangan dialihkan isu tuntutan masyarakat dengan penangkapan,” ujar Haji Uma.
Kasus penangkapan koordinator demo PT. Arun menjadi preseden buruk dalam iklim demokrasi.
“Padahal rakyat tidak tuntut banyak. Mereka hanya ingin haknya yang bertahun-tahun hilang, tapi kok ditangkap,” katanya lagi.

Haji Uma meminta pihak kepolisian untuk mempertimbangkan kemungkinan supaya Tri Juanda dibebaskan.
“Ada cara-cara yang lebih arif untuk meminta warga tidak anarkis. Ada cara-cara yang baik, bukan dengan penangkapan,” ujarnya.
Penyidik Satuan Reserse Kriminal Polres Lhokseumawe hingga usai siang tadi masih menahan Tri Juanda, 23 tahun, koordinator demo (unjuk rasa) masyarakat eks Blang Lancang dan Rancong. 
Tri Juanda yang juga aktivis HMI ditangkap saat pendemo merusak pagar kompleks perumahan PT Arun di Batuphat, Muara Satu, Lhokseumawe, 27 Oktober 2014. Unjuk rasa itu untuk menuntut pemerintah dan PT Pertamina merealisasikan resettlement (pemukiman baru) untuk 542 KK warga eks Blang Lancang dan Rancong, Lhokseumawe, yang digusur ketika pembangunan Kilang LNG Arun tahun 1974. [Baca: Koordinator Demo PT Arun Masih Ditahan]
- See more at: http://atjehpost.co/articles/read/13917/Haji-Uma-Sesalkan-Penangkapan-Koordinator-Demo-PT-Arun#sthash.KajBru1V.dpuf
Haji Uma Sesalkan Penangkapan Koordinator Demo PT. Arun - See more at: http://atjehpost.co/articles/read/13917/Haji-Uma-Sesalkan-Penangkapan-Koordinator-Demo-PT-Arun#sthash.KajBru1V.dpuf
Haji Uma Sesalkan Penangkapan Koordinator Demo PT. Arun - See more at: http://atjehpost.co/articles/read/13917/Haji-Uma-Sesalkan-Penangkapan-Koordinator-Demo-PT-Arun#sthash.KajBru1V.dpuf
Haji Uma Sesalkan Penangkapan Koordinator Demo PT. Arun - See more at: http://atjehpost.co/articles/read/13917/Haji-Uma-Sesalkan-Penangkapan-Koordinator-Demo-PT-Arun#sthash.KajBru1V.dpuf
Haji Uma Sesalkan Penangkapan Koordinator Demo PT. Arun - See more at: http://atjehpost.co/articles/read/13917/Haji-Uma-Sesalkan-Penangkapan-Koordinator-Demo-PT-Arun#sthash.KajBru1V.dpuf
comments | | Baca Selanjutnya...

Jurnalogika Team

dakwah.stainmal.ac.id

Blogroll

Iklan

Comments
Comments
 
Design Template by Teuku Reza Rizki | Support by creating website | Powered by Said Arif Tirtana