Berita Baru :
Showing posts with label #BeritaDaerah. Show all posts
Showing posts with label #BeritaDaerah. Show all posts

Irwandi, Cut Nurasyikin, dan Tragedi Tsunami

Penulis : Unknown on Friday, December 26, 2014 | 1:19 AM

Friday, December 26, 2014

Risalah ini merupakan testimoni Irwandi Yusuf, mantan pengatur strategi GAM yang ditahan di LP Keudah, Banda Aceh, hingga tsunami melanda pada 26 Desember 2004, kemudian di masa damai ia terpilih menjadi Gubernur Aceh periode 2007-2012.

KISAH ini bermula ketika kami sama-sama berjuang di GAM sejak 1998. Mulanya saya hanya dengar nama Kak Cut Nurasyikin, tetapi sejak tahun 1999, menjelang Pawai Referendum Damai, saya kenal langsung dengan “perempuan hebat” ini.

Mei 2003 diberlakukan Darurat Militer (Darmil) di Aceh. Bersamaan dengan itu Cut Nurasyikin ditangkap di Aceh. Beberapa hari kemudian, pada 24 Mei 2003 saya ditangkap di Jakarta dan ditahan di Polda Metro. Sebulan kemudian dikirim ke Aceh dan ditahan di Mapolres Aceh Besar (sekarang Poltabes Banda Aceh).

Ruang tahanan saya berukuran 3 x 4 meter yang berisi paling sedikit 20 orang, tak jarang pula sampai 32 orang. Ruang ini bersebelahan dengan sel Kak Cut yang berisi sekitar enam orang. Kak Cut sering membagi makanan kepada kami melalui jeruji pintu besi. Kak Cut juga yang berteriak-teriak untuk menimbulkan perhatian tatkala kami dianiaya polisi. Kalau Kak Cut sudah berteriak biasanya akan muncul perwira ke sana untuk menghentikan penganiayaan itu. Ada seorang perwira yang sering muncul kala Kak Cut membunyikan “sirine”nya, namanya Budiman. Pak Budiman kemudian menjabat Kapolsek Ulee Lheue, Banda Aceh.

Hasil sidang, Kak Cut divonis 14 tahun dan saya diputus sembilan tahun penjara. Kak Cut mendekam di penjara wanita, Cabang Rutan Lhoknga, Aceh Besar, sedangkan saya di LP Keudah. Sesekali kami berbicara dengan HP selundupan.

Tanggal 26 Desember  2004 sekitar pukul 02.00 WIB (dini hari)
Kak Cut Nurasyikin (dari Cabang Rutan Lhoknga) menelepon saya (di LP Keudah). Berikut petikan perbincangan kami yang sebagian bahasanya saya ubah ke bahasa Indonesia.  

Kak Cut: Assalamualaikum, Tgk Agam. Peu haba di sinan? Ini Kak Cut. Saya:  Wa’alaikumussalam, di sinoe jroh, haba got. Teurimong geunaseh.
Kak Cut: Tgk Agam, ada yang mau saya tanyakan sedikit. Boleh, tidak? Saya sangat galau dan sedih akhir-akhir ini.
Saya: Silakan, Kak Cut. Mau tanya apa?
Kak Cut: Begini Tgk Agam, apakah saya masih dianggap sebagai anggota GAM oleh pimpinan di Swedia? Kan saya dulu pernah diadili di Hotel Kuala Tripa (tempat juru runding GAM).
Saya: Oh, itu kan sudah selesai permasalahannya sejak lama. No problem. Kak Cut masih seutuhnya anggota GAM.
Kak Cut: Tapi, menurut pimpinan di Swedia, bagaimana?
Saya: Alaaa, Swedia mana tahu apa pun mengenai hal itu. Sudah selesai, Kak. Jangan dipikirkan lagi. Kak Cut 100% GAM. Santai saja.
Kak Cut: Alhamdulillah, alhamdulillah... Berarti, tidak sia-sia pengorbanan saya. Saya masih dianggap sebagai anggota GAM. Alhamdulillah. Saya pikir, sudah tak dianggap lagi. (Suara Kak Cut terisak).

Kemudian percakapan beralih topik, ke laporan pertempuran laut di perairan dekat Belawan antara Kapal Perang ALRI dengan boat cepat GAM di mana boat milik GAM melakukan serangan dengan RPG-7 terhadap dua kapal perang RI. Perajurit GAM melaporkan kepada saya bahwa dua kapten kapal di dua kapal perang tersebut tewas. Beberapa bulan lalu saya ngobrol dengan seorang Jenderal Angkatan Laut, termasuk juga menyinggung cerita “jadul” tentang pertempuran di laut Belawan tahun 2004, ternyata kedua perwira AL itu tidak sampai meninggal, hanya luka parah.

Kemudian, Cut Nurasyikin membuat pernyataan yang mengagetkan saya, dan saya protes keras atas pernyataan itu, karena terlalu absurd atau kabur. Tak mungkin terjadi begitu cepat tanpa agenda apa pun.
Kak Cut: Tgk Agam, dalam waktu yang sangat dekat ini kita akan memperoleh kemerdekaan. Mungkin saya tak sempat melihatnya, saya akan meninggal dunia sebelum kemerdekaan itu. Semoga Tgk Agam dapat melihatnya.
Saya: Kak Cut, Kak Cut omong apa itu? Gak mungkin terjadi. Tidak ada agenda apa pun tentang Aceh di UN. Jangan sampai Kak Cut telepon ke lapangan, takut nanti timbul euforia yang tidak logis di kalangan pasukan kita dan mereka menjadi lengah.
Kak Cut: Ya, ya Tgk Agam, tapi ini pasti. Saya jamin kita akan mengalami kemerdekaan, tapi saya tidak sempat melihatnya....
Saya (menyela): Stop, stop Kak Cut, jangan teruskan lagi. Gak mungkin, gak mungkin!
Kak Cut: Benar, Tgk Agam, benar omongan saya. Teungku lihat saja nanti tanggal 30 (Desember 2014 -red) (kapal perang) Abraham Lincoln beserta ribuan tentara Amerika akan mendarat di Aceh, lalu diikuti ribuan tentara dari banyak negara berduyun-duyun ke Aceh.
Saya: Nyan ka kon, nyan ka kon... (Ini sudah tidak logis). Dari mana sumber beritanya, dari mana sumber beritanya? Tolong Kak Cut sebutkan sumber beritanya. Tolong jangan Kak Cut propagandain ahli propaganda.
Kak Cut: Dari BBC.
Kak Cut terdesak dengan pertanyaan saya, maka dia jawab sekenanya saja, dari BBC.
Saya: Ho...ho... Kak Cut, saya dengar BBC 24 jam sehari, tujuh hari seminggu. Gak ada berita itu. Yang benar aja, dari mana sumbernya?
Tut tut tut... Telepon putus. Saya coba telepon lagi, tapi tidak tersambung. Saya perkirakan HP Kak Cut kehabisan baterai. Jam menunjukkan pukul 03.15 tanggal 26 Desember 2004. Saya pun tidur.


Epilog
Esoknya, sekitar pukul 07.20 WIB tanggal 26 Desember 2004 gempa 9,1 SR mengguncang Aceh. Saya yang lumayan banyak membaca, termasuk tentang mekanisme gempa dan dampaknya, berkeliling penjara mengabarkan bahwa gempa ini berpotensi tsunami. Tetapi saya tidak pernah berpikir tsunaminya begitu dahsyat. Palingan sepinggang, pikir saya. Namun, untuk mengantisipasi segala hal, saya ikat sepatu sport saya erat-erat dan saya masukkan HP dan rokok ke dalam kantong plastik lalu saya ikat dengan karet. Tak lama tsunami pun datang, bagaikan kiamat. Saya menyelamatkan diri ke atas atap mushalla di tingkat dua menunggu surutnya air.

Pada hari ketiga pascatsunami saya kabur ke Jakarta via Medan. HP mulai aktif lagi pada hari ketiga. Nur Djuli dan lain-lain saya sms untuk mengabarkan bahwa saya masih hidup. Bungkus rokok (yang berwarna merah putih) saya perlihatkan kepada aparat sweeping di jalan raya, seolah KTP Merah Putih, dan saya lolos.
Srikandi Aceh, Cut Nurasyikin telah syahid dalam tsunami. Tidak ada yang berhasil ke luar hidup dari Cabang Rutan Lhoknga.
Sore hari tanggal 30 Desember, saya tiba di Jakarta. Tak lama kemudian, muncul sms dari Nur Djuli: Abraham Lincoln landed. Saya balas sms: Apa itu Abraham Lincoln? Rasanya out of context. Lalu Nur Djuli menjelaskan bahwa Kapal Induk Amerika telah masuk Aceh membawa ribuan tentara.
Pruuuuummmm... Kontan saya teringat pada perkataan Almarhumah Cut Nurasyikin, “Teungku lihat saja tanggal 30 nanti Abraham Lincoln beserta ribuan tentara Amerika akan mendarat di Aceh, lalu diikuti ribuan tentara dari banyak negara berduyun-duyun ke Aceh.”
Saya memang tidak ngeh waktu itu ketika Kak Cut Nurasyikin menyebut nama Abraham Lincoln maksudnya apa.
Tentang berdatangannya puluhan ribu tentara asing ke Aceh sesuai dengan vision Almarhumah Cut Nurasyikin sewaktu beliau menelepon saya pada dini hari 26 Desember 2004, lima jam sebelum beliau syahid dalam tsunami, adalah fakta. Akan halnya vision merdeka baru dapat diterjemahkan ke dalam dua hal: merdekanya ratusan ribu roh rakyat Aceh ke surga karena tsunami atau merdeka kecil berupa perdamaian dan otonomi khusus bagi yang hidup.

Ilaa nabiyil mustafa wa ilaa syaikuna, wa amiruna, wa ilaa ummuna wa abuwaina, wa ilaa arwahi Cut Nurasyikin dan semua korban tsunami, Al-Fatihah.
Sekian, lebih dan kurang saya mohon maaf.

Sumber : Aceh.tribunnews.com
comments | | Baca Selanjutnya...

Reuni mengharukan setelah 10 tahun tsunami


  Wartawan BBC Andrew Harding kembali bertemu dengan korban tsunami Mawardah Priyanka setelah 10 tahun


Sulit untuk mengenali Lhok Nga

Pohon-pohon telah tumbuh kembali. Saat dilihat dari jalan, desa kecil itu seperti tersembunyi di balik tirai tebal berwarna hijau.

Ketika kami menghentikan kendaraan di daerah pinggiran, saya berdiri di tepi jalan di atas bukit sembari mencari wajah yang saya kenali--dan memikirkan betapa banyak perubahan yang terjadi.


Sepuluh tahun yang lalu, saya ingat situasinya sangat berbeda.
Beberapa hari setelah tsunami - ketika semuanya rata - dari sini Anda dapat melihat ke segala arah - termasuk laut, yang berjarak sekitar dua kilometer di bagian barat dan juga ibu kota Banda Aceh.
Lumpur
, puing, serta kesengsaraan ada di mana-mana. Para relawan mulai mencari jenazah, dan ratusan mayat terbaring di jalanan.
Reuni yang mengharukan
Di tenda darurat pengungsi yang didirikan dekat masjid, saya pertama kali bertemu dengan Mawardah Priyanka. Saat itu dia berusia 11 tahun, kelelahan, sangat kotor, dan sendirian.
Kedua orangtuanya meninggal karena gelombang tsunami - yang diperkirakan setinggi 35 meter - menimpa rumah mereka di desa di pesisir Lampuuk.

Permukiman yang dibangun dengan bantuan asing di Lhoknga Aceh.
Beberapa hari kemudian dia menemukan kakaknya, Mutiyah, 16 tahun, masih hidup.Dalam beberapa bulan selanjutnya, saya tetap saling berkabar dengan dua bersaudara tersebut selagi mereka pindah ke tenda pengungsian, lalu ke tenda mereka sendiri, dan kemudian ke rumah baru yang dibangun oleh lembaga amal Oxfam.
Mawardah kembali ke sekolah. Adapun Mutiyah menikah dan pindah. Kakak mereka yang lebih tua, Ita, pindah ke rumah mereka di Lhoknga.Tetapi, selama delapan tahun, saya kehilangan kontak mereka.
Sulit bagi saya untuk menentukan arah ketika saya berjalan di tempat yang dulu sangat berlumpur. Sekarang di tempat itu ada jalan
raya, dengan jembatan baru di atas sungai kecil. Di sebelah kanan, saya melihat bangunan rumah - sangat sederhana, berdinding kayu dan beratap seng.
Seseorang berteriak bahwa ada orang asing datang, dan tiba-tiba sosok yang tinggi dengan berseri-seri dengan tergesa-gesa keluar dari rumah.Reuni yang membahagiakan, mengharukan - dan sempat beberapa saat janggal - bagi kami berdua.
Saya melihat bagaimana sosok Mawardah kecil telah berubah -tentu bertambah tinggi- dan betapa kehadiran saya berarti bagi dia dan bagi saudarinya Mutiyah yang tiba dari daerah lain, dua hari kemudian.
Saya merasa bersalah karena tidak berupaya dengan sungguh-sungguh untuk mengontak mereka kembali ketika jaringan asing mulai meninggalkan provinsi itu.
"Tidak ada yang peduli terhadap saya - tidak ada yang mencintai saya seperti orangtua saya," kata Mawardah sambil menangis keesokan harinya.
Tsunami menghancurkan jejak orangtuanya - tidak tersisa foto ibu atau ayahnya. Sedangkan Ita harus menghidupi keluarga, seringkali meninggalkan Mawardah sendirian.

Rumah yang kosong 

Kondisi Aceh setelah bencana tsunami 2004 


Tetapi kemudian, tampak jelas bahwa bencana yang menyapu kehidupan Mawardah, juga berdampak positif. Pada usia 21 tahun, dia menjadi sosok perempuan muda yang percaya diri, cerdas dan berambisi.


Dia meraih sejumlah beasiswa dari perusahaan semen lokal (yang dibangun kembali setelah tsunami) dan kuliah jurusan bahasa Inggris di sebuah perguruan tinggi swasta di Banda Aceh.

Selama dua hari, kami mengobrol di rumah kecilnya, berkunjung ke sekolah dan makan siang dengan teman-teman dekatnya, saya belajar lebih banyak tentang cobaan dan komplesitas hidupnya, dan itu membawa saya memahami bahwa pengalaman Mawardah merupakan cerminan keadaan di Aceh dalam satu dekade setelah tsunami.
Di sana pertama kali dibangun rumah - satu dari 140.000 unit yang dibangun dengan bantuan dana internasional sebanyak US$7milliar untuk Aceh.
Rumah Marwadah dibangun dengan cepat dan atapnya tampak bocor, tembok tipis. Dan saya ingat sejumlah pertengkaran yang tidak pantas di awal masa pembangunan rumah-rumah untuk para korban tsunami yaitu mengenai keluarga mana yang akan memiliki hak atas rumah.
Tetapi, bangunan itu akhirnya sesuai dengan peruntukannya, dan keluarga kemudian mengakui bahwa rumah mereka lebih baik dibandingkan yang mereka miliki sebelum 2004.
Di tempat lain, banyak rumah tidak ditempati - bangunan itu dibangun di tengah kebingungan karena koordinasi yang buruk, dan seringkali bersaing antar lembaga bantuan, memiliki banyak uang dan terkadang lebih memikirkan menghabiskannya dengan cepat dibandingkan mengetahui keinginan komunitas lokal.
"Saya memberikan (skor untuk) upaya bantuan 65 (dari 100)," kata Muslahuddin Daud, seorang pejabat Bank Dunia yang hampir terkena tsunami.
"Banyak yang tidak sempurna. Untuk US$7milliar kami dapat melakukannya lebih baik dengan banyak cara. Banyak rumah-rumah kosong... berlebihan. Kami memiliki lebih dari 500 organisasi bantuan dan... banyak yang tumpang tindih.

"Dan banyak uang bantuan asing dalam jangka panjang membuat orang jadi bergantung - dan mereka jadi malas. Pertumbuhan di Aceh masih mandeg - kemampuan untuk mengelola sumber daya tidak ada," kata Daud.


'Perempuan yang kuat' 

Dan kemudian terjadi perdamaian....
Sebelum tsunami, Aceh bergulat dengan kekerasan akibat pemberontakan. Meski masih berusia 11 tahun, Mawardah ingat kondisi tersebut berdampak pada semua orang, ketakutan, jalanan ditutup dan bentrokan yang terjadi di desa-desa.
Tetapi bencana kemudian membawa pembicaraan damai, dan saat ini provinsi ini terus mendapatkan manfaat dari kesepakatan otonomi yang mengakhiri konflik.
Pemerintahan baru telah menerapkan elemen hukum Syariah- yang didukung banyak warga termasuk Marwadah.



Mawardah bercita-cita menjadi wartawan setelah mendapat beasiswa kuliah ke Amerika Serikat.
Tetapi kritik mengatakan sejumlah hukuman tersebut mencederai hak asasi manusia. Meski jumlah investor asing yang meningkat, provinsi ini masih termasuk lambat dalam pertumbuhan ekonomi dan pengentasan kemiskinan dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia.
"Kami menyukai Syariah dan saya merupakan seorang Muslim yang taat," kata Mawardah.
Meski demikian, dia mengaku yakin bahwa petugas polisi Syariah seringkali bersikap "munafik".
Suatu sore, kami mampir di kampus Mawardah di Banda Aceh tempat dia berlatih Thai kickboxing dengan sekelompok mahasiswa dan mahasiswa.
"Dia mahasiswi yang bagus. Dia bekerja dan belajar dengan keras. Sebagai seorang perempuan, dia memiliki semangat seperti pria. Dia kuat. Dia tidak mudah menyerah," kata guru bahasa Inggrisnya Maulizan Za.
Dia khawatir mengenai inflasi, tetapi - seperti banyak orang yang saya tanyai - mereka yakin bahwa hidup mereka lebih baik dan aman dibandingkan sebelum tsunami.
"Teman saya merupakan keluarga saya sekarang," kata Mawardah, setelah berlatih kickboxing dan bersiap kembali ke rumah dengan mengendarai motor saudarinya.
"Saya ingin menjadi seorang perempuan yang kuat. Setelah saya lulus saya akan kuliah di Amerika, dan bekerja sebagai seorang reporter. Saya merasa masa depan saya akan cerah," kata dia mencerminkan kepercayaan diri.


Sumber : http://www.bbc.co.uk
comments | | Baca Selanjutnya...

Akun “Mahmudiah Paya Bakong” Hebohkan Dunia Maya

Penulis : Unknown on Monday, November 17, 2014 | 7:04 AM

Monday, November 17, 2014

\
Photo Profil Mahmudiah Paya Bakong pada (9/11) Pukul 16.40
OBSERVASI | ACEH UTARA:
Siapa sebenarnya pemilik akun facebook “Mahmudiah Paya Bakong” (Klik). Akun facebook tersebut di anggap oleh sebagian pengguna jejaring sosial sebagai penghinaan terhadap agama Islam. Pasalnya, banyak Foto yang di upload di akun itu bertentangan dengan syiar islam. Foto bersemi sex berupa ciuman lidah terpampang di kronologi yang mengaku sebagai Mantan  Mahasiswi Politeknik Lhokseumawe di profilnya itu.
Photo di Kronologinya yang di posting pada 8 September, Foto di ambil pada (9/11) Pukul 16.40
Banyak sekali yang mencaci keras foto – foto itu, saalah satunya “Ijal Chayoufore Akun yang berteman dengan “Mahmudiah Paya Bakong” itu berkomentar “alah ekdeh but2 maksit tjak pamer baggalom” (perbuatan maksiat di pamer – pamer lagi pada orang lain_Red).
Tak hanya “Ijal Chayouforever” yang berkomentar, teman lainnya juga member anggapan, salah satunya “Farman Munanda”yang mengatakan  “oe gam menye kutume ku bloh ku gam menye na kapubeut bek ka pamer are lage bui kah nan paya bakong yan jeut ka pinah laju” (oo lelaki, kalau jumpa sama kamu, saya injak – injak. Kalu kamu melakukan itu, tidak usah di pamer – pamer, babai kau, nama Paya Bakong kau hapus saja_Red)” Komen Farman.
Photo di Kronologi facebook "Mahmudiah paya Bakong" yang di unggah pada 8 September.
Azhari S Class juga berkomentar “male awak2 paya bakong laen” (bikin malu anak paya bakong aja_Red).
Menurut yang terpampang di Profil, “mahmudiyah Paya Bakong” bekerja sebagai perawat dan tercatat sebagai Mantan mahasiswi Politeknik Lhokseumawe dan juga merupakan Alumni SMA Negeri 1 Matang kuli. 
Banyak dari pengguna Facebbok yang mengharapkan agar pemilik Akun Facebook tersebut di adili sesuai dengan hukum yang berlaku karena di anggap sudah melecehkan Islam sesuai dengan Norma dan etika - etika dalam Islam.
kepada Pemimpin Aceh, kami berharap supaya Pemilik akun ini di kelurkan dari bumi Serambi mekkah karen meraka telah mengotori tanah Indatu Moyang.
(Dikutip TeukuReza)


Sumber : NewObservasi
comments (1) | | Baca Selanjutnya...

Jurnalogika Team

dakwah.stainmal.ac.id

Blogroll

Iklan

Comments
Comments
 
Design Template by Teuku Reza Rizki | Support by creating website | Powered by Said Arif Tirtana