Berita Baru :
Home » » OPINI - Bahasa Aceh Di Ambang Kritis

OPINI - Bahasa Aceh Di Ambang Kritis

Penulis : Unknown on Friday, January 9, 2015 | 12:39 AM


Tulisan*
Tulisan ini diilhami dari poster yang sebagai bentuk tugas ujian akhir mata kuliah Psikologi Lintas Budaya. Tugas yang diberikan berhubungan dengan budaya dan manusianya, ini membuat otak kami mulai belajar berfikir. Setelah berfikir keras akhirnya kelompok kami memutuskan mengambil Tema "Identitas Budaya". Awalnya pilihan ini agak sedikit membingunghkan, karena unsur-unsur dalam identitas budaya itu sangat banyak, hingga akhirnya dengan keyakinan kuat kami mulai membuat suatu poster yang berhubungan dengan bahasa daerah. 

Sebagaimana kita ketahui, bahasa daerah adalah satu bagian dari identitas budaya, setiap daerah/suku di nusantara ini selayaknya pasti memiliki bahasa daerahnya masing-masing. Bahasa daerah dianggap sebagai wujud penunjukan jati diri suatu komunitas masyarakat tersebut. Bahasa daerah adalah identitas wujud kearifan lokal dari suatu wilayah adat. Di era zaman modern seperti sekarang ini, bahasa Daerah sudah mulai terkikisnya bahasa daerah dari interaksi verbal anak muda yang semena-mena dipengaruhi Globalisasi, sebab itu Pemuda-pemudi sekarang akan merasa tidak modern dan ketinggalan zaman menggunakan bahasa daerah. Bahkan salutnya adalah adanya Pemuda-pemudi yang memang tidak bisa sedikitpun bahasa daerahnya selain beberapa kosakata yang sering diucapkan orang-orang disekitarnya. Permasalahan inilah yang akhirnya jua menjadi fokus kami sehingga berani menuangkan opini ini dalam poster sebagai hasil dari interpretasi dari pikiran kami.


Aceh sebagai salah satu wilayah yang memiliki beragam budaya, bahasa, adat istiadat dan tradisi lainnya. Aceh adalah salah satu wilayah dihuni oleh berbagai suku-suku yang menyebar diseluruh Tanoh Aceh, suku Aceh, Gayo, Tamiang, Alas, Aneuk Jamee, Kluet, dan lain-lain yang memiliki dialek dan struktur bahasa masing-masing. Dalam pemakaian Bahasa Aceh saja, kita akan mendapat banyak sekali perbedaan antara satu lingkup kabupaten dengan kabupaten lainnya walaupun masih dalam satu Aceh.

Antara kabupaten Aceh Utara dan Kabupaten Pidie akan ada perbedaannya dalam segi tutur dan dialek. Begitupun dengan yang lainnya. Bahkan, antara satu kampung dengan kampung lain akan ada perbedaan walaupun sama dalam satu kabupaten. Artinya adalah, begitu banyaknya budaya dan bahasa yang kita milikim, sehingga patutlah kita berbangga dengan perbedaan tersebut.

Namun, yang disayangkan adalah kesadaran Aneuk Nanggroe ini dalam menggunakan bahasa daerahnya masing-masing. Kalau diperhatikan arus perubahan penggunaan bahasa daerah akan sengat kentara di daerah perkotaan sedangkan di daerah pedalaman muda - mudinya belum sepenuhnya mulai meninggalkan Bahasa Aceh, yang kita amati sekarang kebanyakannya, adalah Muda mudi diperkotaan secara lingkungan mungkin karena kehidupan keluarga dan lingkungannya yang tidak mengenalkan bahasa daerah dengan baik, tidak ada modelling dalam keluarganya yang layak jadi tempat meniru yang akan membentuk kepribadiannya.


Lantas, apakah tidak boleh belajar bahasa orang lain dan berkomunikasi menggunakan bahasa orang lain? jawabannya ia boleh-boleh saja asal tidak melupakan bahasa daerahnya masing-masing. Toh, Bahasa indonesia misalnya bila dikatakan sebagai bahasa persatuan maka pergunakan ketika suatu kondisi yang memang mengharuskan kita menggunakannya, bagaimanapun bahasa yang di ada Aceh adalah sebagai wujud identitas budaya masyarakat Aceh. Kemana pun kita melangkah sudah patutnya membawa jadi diri kita sebagai pertanda kita tidak sama dengan orang-orang lain, bila tidak maka bahasa-bahasa yang berada di aceh di ambang kepunahan dan akan menjadi bahasa kuno seperti halnya bahasa sansakerta.


* Isvani, Mahasiswa Aceh Utara, Pemerhati sosial dan lingkungan
Mahasiswa Fakultas Hukum Unsyiah

Tulisan ini dikutip dari Blog rekan kami http://suaatjeh.blogspot.com/

Share this article :

Post a Comment

 
Design Template by Teuku Reza Rizki | Support by creating website | Powered by Said Arif Tirtana