Berita Baru :
Home » , » Media Dan Opini Mahasiswa Untuk Kebijakan Publik

Media Dan Opini Mahasiswa Untuk Kebijakan Publik

Penulis : Unknown on Monday, November 17, 2014 | 7:25 AM

 Hidup bernegara dan bermasyarakat tak bisa dipisahkan dengan peran media. Relasi antara masyarakat dan negara selalu dijembatani oleh peran media. Itulah sebabnya mengapa media massa diposisikan sebagai pilar keempat dalam bangunan sistem negara demokrasi.
Selama ini, sistem pengelolaan negara (governance) karib disibukkan oleh peran dari tiga pilar yang senantiasa menopang berfungsinya sistem pemerintahan, yaitu: pilar eksekutif, yudikatif dan legislatif. Ketiganya dikelola oleh secara fungsional oleh instrumen sufra struktur politik negara. Dalam ranah Sufra Struktur tersebut, orang-orang berperan dan berfungsi secara permanen dan tersistem serta terikat norma struktural formalistik yang memperatasnamakan rakyat atau masyarakat.
Berbeda halnya dengan peran media massa yang berpijak sebagai pilar keempat dalam sistem demokrasi sebuah negara. Eksistensi dan perannya berada dalam infra struktur dan lebih merupakan ranah kemasyarakatan (ruang publik) dalam mengartikulasikan kepentingan publik untuk sebuah kebijakan dalam sistem bernegara. Dalam perspektif komunikasi, khususnya tentang pengaruh media massa terhadap masyarakat dan terhadap Pemerintah selaku pelaksana dan penentu kebijakan publik, dikenal sebuah teori yang disebut sebagai teori agenda setting.

Agenda Setting media secara ilmiah mulai turut diperkenalkan oleh Maxwell E Mc. Combs & Donald Shaw (1972). Menurut kedua pakar komunikasi tersebut, media memiliki kekuatan pengaruh terhadap khalayak mengenai apa yang akan mereka anggap sebagai issu utama dan penting. Penelitian kedua pakar tersebut, telah dibuktikan dalam pemilihan Presiden di Amerika pada tahun 1968. Dengan kata lain, mereka berhasil membuktikan bahwa media memiliki peran penting dalam membentuk realitas politik.
Media massa tidak hanya melakukan konstruksi realitas politik atas berbagai peristiwa politik dalam bentuk berita politik, tetapi media massa juga dapat melakukan dekonstruksi realitas politik. Jadi, realitas yang ditampilkan oleh media massa, bukanlah realitas yang sebenarnya. Ia merupakan realitas yang sudah melalui campur tangan wartawan atau pemimpin redaksi. Itulah sebabnya, realitas media disebut sebagai realitas tangan kedua (Second Hand Reality).”
Itulah sebabnya, mengapa kontestan Pemilu atau Pilpres ataupun Pasangan Calon di Pemilukada tidak mendapat jaminan secara pasti agar liputan kegiatannya ditempatkan pada posisi headline (halaman depan). Jika kegiatannya tidak menarik dan tidak penting menurut kebijakan redaksional media bersangkutan, maka tentu sulit mendapat porsi Headline. Terlebih lagi, jika pada saat bersamaan ada peristiwa lainnya yang dianggap lebih menarik dan penting untuk diberitakan secara khusus. Akhirnya, kejadian atau peristiwa berita kontestan bersangkutan, terpaksa tergusur dari posisi headline.
Demikian juga halnya untuk kegiatan mahasiswa sebagai sumber berita. Jika kegiatannya tidak mengandung nilai berita, maka jangan harap bisa diberitakan dalam porsi yang memadai. Maka dalam pada itu, mahasiswa sebagai aktifis harus mencari cara bagaimana agar aspirasinya bisa termediakan sebagai berita atau informasi bagi khalayak massa.
Setiap media massa, khususnya media cetak biasanya menyediakan ruang opini untuk memuat artikel dari para penulis. Bahkan, untuk rubrik artikel tersebut, ada jatah/alokasi khusus bagi Penulis mahasiswa. Rubrik artikel atau opini di media massa tersebut, seharusnya dimanfaatkan sebaik dan semaksimal mungkin oleh segenap mahasiswa. Sebab sangat boleh jadi, jika opini tersebut dipersiapkan dan didesain skenarionya, oleh segenap aktifis mahasiswa secara sistematis, terstruktur mulai di daerah sampai Nasional secara massif, maka tidak menutup kemungkinan opini tersebut akan memengaruhi sikap pandang masyarakat, hingga berujung pada pengaruh kebijakan publik dalam struktur pemerintahan dalam negara.
Persoalannya adalah, apakah terdapat cukup banyak para aktifis mahasiswa yang memiliki wawasan intelektual dan keterampilan menulis dalam mengartikulasikan aspirasi di media massa?. Maka dalam pada itulah, pentingnya pergerakan aktifis mahasiswa memiliki media massa tersendiri, untuk setidaknya menjadi panggung pembelajaran dalam mengaktualisasikan potensi nalar intelektual secara bebas dan mandiri.
Sejarah telah mencatat, bahwa tidak sedikit penulis hebat yang berpengaruh saat ini, adalah produk yang dilahirkan dari rahim media mahasiswa. Mereka belajar menulis dari tingkat buletin dan tabloid mahasiswa, hingga berkiprah di media Nasional. Bahkan, kalau kita mencermati kualitas ide, gagasan, dan konsep yang dituliskan oleh para aktifis mahasiswa di media buatan mereka sendiri, bobotnya terkadang justru lebih bermutu jika dibanding dengan tulisan yang umumnya termuat di media massa umum.

Penulis besar dan ternama seperti Gunawan Mohammad, Dawam Raharjo, Aswab Mahasin, Mochtar Pabottingi, S. Sinansari ecip, Hamid Awaludin, Adalah penulis-penulis yang jika menulis bisa memengaruhi kebijakan publik. Mereka adalah penulis yang terlatih dan belajar menulis sejak mahasiswa. Dan, mereka memulainya sejak menjadi mahasiwa dengan media yang mereka ciptakan sendiri. Mereka adalah generasi emas yang menonjol karena kepiawaiannya menulis tentang apa yang terjadi di Negara ini. Persoalannya, apakah generasi mahasiwa saat ini juga telah mempersiapkan diri secara intelektual sebagaimana mereka? Saya kuatir, mahasiswa saat ini, justru sebagian besar waktunya hanya terserap pada kegiatan merencanakan dan melaksanakan serta mengevaluasi gerakan demonstrasi tanpa menyertainya dengan gerakan membentuk opini secara intelektual melalui tulisan-tulisan yang orisinil dan tajam.


Sumber :
Share this article :

Post a Comment

 
Design Template by Teuku Reza Rizki | Support by creating website | Powered by Said Arif Tirtana